Pembukaan Kolam Pemandian Umum di Srengat Tahun 1936
Jika menelusuri kata “Srengat” dalam arsip surat kabar kolonial di Delpher, kita akan menemukan bahwa sebagian besar pemberitaan yang muncul berisi laporan kriminal atau musibah. Berita seperti perampokan, penikaman aparat, kasus mafia tanah, kecelakaan kereta api, dan musibah keracunan makanan cukup sering muncul di hasil pencarian. Di antara rangkaian kabar bernada negatif itu, terdapat satu temuan yang memberikan gambaran berbeda tentang Srengat. Pada tanggal 26 Juni 1936, De Indische Courant memberitakan pembukaan fasilitas umum berupa pemandian atau kolam renang yang dibuka untuk masyarakat. Sehari setelahnya, Soerabaijasch Handelsblad memuat berita serupa. Kedua surat kabar tersebut menggunakan judul yang sama,“De Badplaats Srengat”, yang kemungkinan besar ditulis oleh koresponden lokal yang sama.
Isi Berita
Berita tersebut dibuka dengan penjelasan mengenai lokasi pusat Kawedanan Srengat yang kemungkinan merujuk pada pendopo kawedanan yang kini dialihfungsikan menjadi Kantor Imigrasi Kelas II Blitar. Penulis menyebut bahwa kawedanan ini berada pada kilometer 12 di jalan raya yang menghubungkan Blitar dan Kediri. Masih dalam paragraf yang sama, penulis menjelaskan lokasi pemandian umum yang menjadi fokus laporannya. Pemandian itu terletak sekitar empat kilometer dari Srengat. Berdasarkan penggambaran dalam berita, tempat tersebut berada di selatan Jalan Mastrip dan dicapai melalui jalan desa yang disebut berkondisi baik.
Pemandian umum yang tidak disebutkan nama maupun letak desanya ini selesai dibangun pada tahun 1936 berkat perhatian serta pengelolaan yang dinilai baik oleh Wedono Srengat. Nama wedono tidak ditulis dalam laporan. Namun berdasarkan daftar Wedono Srengat, pejabat yang menjabat pada periode tersebut adalah Raden Soekardiman yang kemudian menjabat sebagai Bupati Pacitan pada tahun 1943.
Lokasi pemandian digambarkan berada di tengah kawasan yang masih alami. Fasilitas utamanya adalah kolam renang permanen dengan permukaan lebih dari 300 meter persegi yang tersusun rapi. Kolam ini dikelilingi pohon beringin yang menjulang tinggi dan rumpun bambu. Di sampingnya terdapat sebuah danau kecil yang ukurannya sedikit lebih besar dan dapat digunakan untuk berperahu maupun berenang. Sumber air berasal dari mata air di sekitarnya. Di bagian yang lebih tinggi telah disediakan tempat bagi pengunjung untuk berganti pakaian. Dengan tarif yang sangat terjangkau, fasilitas ini dapat dinikmati oleh siapa saja.
Pada bagian akhir, penulis mengungkapkan alasan ia mengirimkan laporan ini. Ia ingin mempromosikan pemandian yang baru dibuka dan belum banyak dikenal masyarakat. Ia menyarankan penduduk di sekitar Srengat untuk menghabiskan pagi pada hari libur atau hari Minggu di tempat pemandian tersebut.
Lokasi Pemandian Saat Ini
Tidak adanya penyebutan nama pemandian maupun desa tempat fasilitas ini berada membuat penentuan lokasinya pada masa sekarang menjadi cukup sulit. Penelusuran hanya dapat mengandalkan ancer-ancer yang ditulis dalam berita serta gambaran yang diberikan oleh koresponden. Perlu diingat bahwa deskripsi tersebut mungkin saja kurang akurat atau pemandian tersebut sudah tidak beroperasi sehingga tidak meninggalkan jejak yang mudah dikenali.
Berdasarkan uraian dalam artikel, saya mencoba memperkirakan lokasi yang mungkin dimaksud. Perkiraan ini tentu saja tidak pasti, mengingat saya tidak memiliki pengetahuan luas mengenai seluruh pemandian umum di wilayah Srengat. Namun jika menitikberatkan pada petunjuk bahwa pemandian berada di selatan Jalan Mastrip, terdapat dua kemungkinan lokasi berikut.
1. Wisata Air Sumber Pucung

Pemandian ini berada di Desa Kerjen sehingga posisinya yang terletak di selatan jalan raya sesuai dengan petunjuk dalam berita. Jika diukur melalui Google Maps, jarak dari Kantor Imigrasi ke lokasi pemandian berkisar antara 3,5 hingga 3,6 kilometer. Angka ini cukup mendekati jarak empat kilometer yang dicatat oleh koresponden. Meskipun demikian beberapa bagian deskripsi dalam berita tampaknya kurang sesuai. Pemandian ini setahu saya tidak memiliki pohon beringin berukuran besar dan tidak dikelilingi rumpun bambu. Pengukuran kolam melalui Google Earth juga menunjukkan luas yang jauh lebih besar dibanding dengan 300 meter persegi yang disebutkan. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa kolam tersebut mengalami perluasan dari bentuk aslinya atau vegetasi yang dahulu ada sudah hilang.
2. Pemandian Sumur Amber Kandangan

Lokasi lain yang cukup dikenal masyarakat adalah Sumur Amber atau Sumber Kandangan yang juga berada di sisi selatan Srengat. Namun jaraknya dari bekas pusat pemerintahan Kawedanan Srengat mencapai 6,2 hingga 6,7 kilometer sehingga lebih jauh dibanding jarak yang disebutkan dalam berita. Tetap saja masih ada kemungkinan bahwa angka yang ditulis koresponden merupakan perkiraan kasar. Dari sisi deskripsi tentang pohon beringin besar, tempat ini memiliki satu pohon beringin tua yang cukup mencolok. Ukuran kolam di Sumur Amber juga lebih kecil dan tampaknya lebih mendekati luasan yang digambarkan dalam artikel sehingga lokasi ini masih layak dipertimbangkan sebagai kandidat pemandian yang dimaksud.