Daftar Wedono yang Pernah Memimpin Kawedanan Srengat pada Masa Kolonial Hindia Belanda

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
25 Oktober 2025
Ilustrasi Pendopo Kawedanan Srengat
Ilustrasi Pendopo Kawedanan Srengat

Istilah kawedanan mungkin terdengar asing bagi kebanyakan generasi sekarang. Wajar saja, karena satuan pemerintahan ini sudah tidak digunakan lagi dalam struktur administrasi modern Indonesia. Saya sendiri mengenal istilah ini karena di kampung saya dulu terdapat sebuah kompleks bangunan yang dikenal sebagai Kawedanan Srengat, letaknya di seberang Pasar Srengat, tak jauh dari toko sekaligus rumah paman saya.

Apa Itu Kawedanan?

Peta Kawedanan Srengat tahun 1936
Peta Kawedanan Srengat tahun 1936. Sumber: Topografische dienst in Nederlandsch-Indië

Menurut Wikipedia, kawedanan atau dalam bahasa Belanda disebut district adalah wilayah administratif yang berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan. Wilayah ini dipimpin oleh seorang wedana atau sering ditulis wedono. Pembentukan struktur ini dapat ditelusuri kembali ke Staatsblad Nomor 16 Tahun 1819, yang mengatur pembentukan residensi atau karesidenan di Jawa dan Madura. Setiap karesidenan memiliki wilayah administratif yang terbagi menjadi regentschap atau kabupaten, kemudian dibagi lagi menjadi kewedanaan, dan selanjutnya menjadi asisten kewedanaan atau onderdistrict, yang pada masa kini dikenal sebagai kecamatan. Sistem kawedanan masih bertahan hingga masa awal kemerdekaan, sebelum akhirnya dihapus melalui Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 1963 yang ditandatangani oleh Presiden Sukarno.

Srengat dan Perubahan Status Wilayah

Pada awal abad ke-19, Srengat belum menyandang status sebagai kawedanan. Kala itu, wilayah ini masih berada di bawah Kasunanan Surakarta dengan status kabupaten. Perubahan status diduga terjadi pasca Perang Jawa (1825–1830). Dalam masa ini, Srengat turun status menjadi onderregentschap (semacam kabupaten bawahan), lalu kembali turun menjadi district atau kawedanan pada tahun 1834.

Makan Ndoro Tedjo
Makan Ndoro Tedjo di Gunung Pegat

Menurut berbagai penuturan, Wedono pertama Srengat adalah Raden Sutedjo, yang oleh masyarakat lebih dikenal sebagai Ndoro Tedjo, yang makamnya terletak di sisi barat Gunung Pegat. Setelahnya, jabatan tersebut diteruskan oleh R.M. Djajeng Koesoemo pada 1849. Selain Ndoro Tedjo dan Djajeng Koesoemo, nama-nama Wedono Srengat lainnya relatif jarang disebut dalam artikel blog atau berita.

Beruntungnya, informasi mengenai para wedono yang pernah menjabat di Srengat masih dapat ditemukan dalam arsip kolonial yang tersedia di situs seperti Delpher.nl dan Staatsbibliothek zu Berlin, meskipun perlu sedikit usaha untuk menelusurinya. Pada kedua situs tersebut, nama dan masa jabatan Wedono Srengat muncul dalam dua jenis sumber, yaitu artikel koran dan Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indië, almanak resmi pemerintahan Hindia Belanda. Dari kedua jenis sumber ini, almanak cenderung memberikan informasi yang lebih jelas mengenai nama pejabat dan periode jabatannya, meskipun arsip yang sudah berhasil saya temukan baru mencakup tahun 1890 hingga 1942.

Daftar Wedono Srengat Sebelum 1889

Berikut adalah daftar wedono yang menjabat di Kawedanan Srengat berdasarkan beberapa artikel koran:

1. Raden Mas Djaeng Boentoro (?-1873)

Berdasarkan artikel Indlandsch Bestuur: Ontslagen yang terbit di koran Java-Bode pada 2 April 1873, disebutkan bahwa wedono Distrik Sringat, Raden Mas Djaeng Boentoro, diberhentikan dengan hormat dari jabatannya.

Tidak ada keterangan resmi tentang kapan beliau mulai menjabat. Namun, dalam tulisan yang dikirim J. D. Kunstt, seorang pegawai perusahaan tembakau Plosokerep di Blitar, ke koran De Locomotief terbitan 4 Desember 1868, nama Raden Mas Djaeng Boentoro disebut sebagai Wedono Srengat. Dari informasi tersebut dapat disimpulkan bahwa ia sudah menjabat setidaknya sejak tahun 1868.

2. Raden Ngabehi Sasro Admodjo (1873-?)

Berdasarkan koran Java-Bode terbitan 11 Juni 1873, Raden Ngabehi Sasro Admodjo diangkat menjadi Wedono Srengat setelah sebelumnya menjabat sebagai pegawai administrasi di Kawedanan Lodoyo.

Sayangnya, tidak ada sumber tambahan yang menjelaskan kapan beliau mengakhiri masa jabatannya.

3. Mas Prawiro Yoedo (?-1885)

Menurut surat kabar De Locomotief edisi 15 Desember 1885, diberitakan adanya pergantian pejabat di Kawedanan Srengat. Tahun 1885 ini menjadi tahun terakhir Mas Prawiro Yoedo menjabat sebagai Wedono Srengat sebelum dipindahkan ke Lodoyo. Jabatan Wedono Srengat kemudian diisi oleh Mas Parto di Wirio, yang sebelumnya bertugas di Lodoyo.

Tidak ditemukan sumber yang menyebutkan secara pasti kapan ia mulai menjabat. Namun melihat urutan peristiwa, besar kemungkinan ia menggantikan Raden Ngabehi Sasro Admodjo.

4. Mas Parto di Wirio (1885-1889)

Masih merujuk De Locomotief edisi 15 Desember 1885, Mas Parto di Wirio tercatat menggantikan Mas Prawiro Yoedo sebagai Wedono Srengat. Ia memegang jabatan tersebut hingga tahun 1889, sebelum akhirnya digantikan oleh Mas Ngabehi Hadi Koesoemo, yang sebelumnya bertugas di Kawedanan Tulungagung, Regentschaap Ngrowo, sebagaimana diumumkan dalam Bataviaasch Nieuwsblad terbitan 27 Maret 1889.

Daftar Wedono Srengat (1889–1942)

Sementara daftar Wedono Srengat berdasarkan Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indië dapat dilihat di bawah ini:

1. Mas Ngabehi Hadi Koesoemo (1889–1892)

Tercatat mulai menjabat pada 22 Maret 1889 berdasarkan Regeeringsalmanak 1891. Dalam edisi 1893, namanya sudah tidak tercantum lagi, menandakan beliau digantikan pada tahun itu.

2. Raden Poespo di Poero (1893–1901)

Namanya kadang dieja sebagai Raden Poespodipoero. Menjabat mulai 16 Januari 1893 dan merupakan Wedono Srengat dengan masa jabatan terpanjang di daftar ini. Tidak lagi tercantum pada almanak tahun 1902.

3. Mas Kartodiredjo (1901–1907)

Menjabat mulai 29 Agustus 1901, muncul dalam almanak 1902 hingga 1907.

4. Raden Djojosoebroto (1907–1913)

Menggantikan Mas Kartodiredjo mulai 8 Oktober 1907, tercatat hingga tahun 1913.

5. Mas Sastrohamidjojo (1913–1915)

Menjabat mulai 18 September 1913, namun hanya sebentar. Pada almanak 1916, posisinya sudah digantikan oleh Raden Djojohadinoto.

6. Raden Djojohadinoto (1915–1917)

Mulai menjabat 24 Juli 1915, tercatat hingga tahun 1917 sebelum digantikan oleh Raden Wignjohatmodjo.

7. Raden Wignjohatmodjo (1917–1918)

Menjabat sejak 21 Maret 1917 dan digantikan pada 30 Agustus 1918 oleh Raden Koesoemobroto.

8. Raden Koesoemobroto (1918–1920)

Masa jabatannya singkat, tercatat hanya pada almanak 1919 dan 1920.

9. Raden Handonokoesomo (1920–1925)

Menjabat mulai 28 Januari 1920. Diduga masa jabatannya berakhir sekitar tahun 1925.

10. Mas Sastrodirdjo (1925–1928)

Mulai menjabat 2 Oktober 1925, tercatat pada almanak 1926. Kemungkinan besar menjabat hingga 1928.

11. Mas Sastrohadiredjo (1928–1931)

Tercatat mulai 15 Juni 1928 dan menjabat hingga tahun 1931.

12. Mas Hardjowibowo (1931–1934)

Menggantikan Mas Sastrohadiredjo mulai 1 April 1931, dan masih tercatat hingga tahun 1934.

13. Raden Soekardiman (1934–1937)

Beliau mulai menjabat pada 13 Agustus 1934, sebagaimana tercatat dalam almanak tahun 1935. Berdasarkan buku Orang-Orang Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa terbitan 1944, Raden Soekardiman lahir di Pati pada 16 Februari 1896, dan menempuh pendidikan di ELS, STOVIA, serta BS. Sebelum bertugas di Srengat, ia lebih dulu menjabat sebagai Wedono Ngumpak, Bojonegoro. Setelah meninggalkan Srengat, pada tahun 1937 beliau diangkat menjadi Patih Pacitan, kemudian menjabat Patih Madiun pada 1939, dan pada 1943 dipercaya menjadi Bupati Pacitan.

14. Raden Oetomo (1937–1941)

Menggantikan Raden Soekardiman sejak 27 Februari 1937, tercatat hingga tahun 1941.

15. Mas Soeprapto (1941-?)

Berdasarkan Regeeringsalmanak tahun 1942, beliau mulai menjabat pada 26 April 1941. Dalam dokumen tersebut namanya juga tercatat sebagai Mas Ngabei Wirjosoeprapto. Tidak diketahui secara pasti hingga kapan beliau menjabat, karena setelah tahun 1942 penerbitan almanak tampaknya terhenti akibat pendudukan Jepang pada 1943.

Namun, menurut buku Orang-Orang Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa, beliau setidaknya masih memegang jabatan tersebut hingga tahun 1943. Buku ini juga memuat profil beliau secara lebih rinci. Mas Soeprapto lahir di Kediri pada 1 Oktober 1903, beliau menempuh pendidikan di HIS dan OSVIA. Sebelum bertugas di Srengat, ia lebih dahulu menjabat sebagai Asisten Wedono Slahung, Ponorogo.

Diperbarui pada 17 November 2025