Kembali Mengunjungi Makam Ndoro Tedjo

Masih jelas dalam ingatan saya, ketika masih kanak-kanak di paruh akhir dekade 90-an, saya pernah diajak mengunjungi sebuah makam di sisi barat Gunung Pegat. Akses menuju ke sana melalui pemakaman umum Pathuk, Srengat. Saya sudah lupa dalam rangka apa kunjungan itu, dan siapa tepatnya yang mengajak, entah bapak atau paman saya. Usia saya waktu itu masih terlalu muda untuk memahami makam siapa yang kami datangi. Yang saya ingat hanyalah bangunan makam itu tampak berbeda, terletak di atas, beratap, dan tidak seperti makam-makam lain di sekitarnya.
Saya baru mengetahui siapa yang dimakamkan di sana setelah sekitar dua dekade kemudian, ketika mulai tertarik menelusuri sejarah Srengat untuk memahami asal-usul kampung halaman saya. Dari berbagai sumber di internet, saya menemukan bahwa makam tersebut diyakini sebagai tempat peristirahatan Wedono pertama yang memimpin Kawedanan Srengat.
Beberapa sumber menyebut namanya Bendoro Tedjo Kusumo, ada pula yang menulis Raden Sutedjo, namun masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Ndoro Tedjo. Meski begitu, hingga kini saya belum menemukan sumber arsip lama yang benar-benar sahih untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, baik mengenai nama maupun kepastian bahwa beliau memang menjabat sebagai Wedono pertama Srengat. Catatan mengenai para pejabat Kawedanan Srengat yang berhasil saya temukan sejauh ini hanya mencakup periode 1889 hingga 1942, berdasarkan berbagai almanak tahunan yang diterbitkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Makam Ndoro Tedjo di 2025
Bulan Oktober 2025 menandai seribu hari kepergian ibu saya. Meski saya gagal hadir tepat waktu dalam acara peringatan yang diadakan keluarga, saya sempat pulang ke kampung. Seperti biasa, hal pertama yang selalu saya lakukan adalah berziarah ke makam kedua orang tua di TPU Pathuk.
Usai nyekar, tiba-tiba terlintas keinginan untuk naik ke bukit di atas pemakaman umum, tempat di mana makam Ndoro Tedjo berada. Meski tak sepenuhnya ingat letak pastinya, saya yakin jalannya bisa diakses lewat setapak di dekat makam bapak dan ibu saya.
Siang itu matahari bersinar terik dan cuaca Srengat sedang panas-panasnya. Istri saya memilih menunggu di bawah, mencari tempat teduh di dekat akses masuk pemakaman. Saya pun mengajak anak laki-laki saya yang berusia empat tahun untuk ikut mendaki. Saya ingin ia ikut menapaki jejak yang dulu pernah saya lalui ketika kecil, sekaligus mengenalkannya pada sejarah kampung kami, agar ia tahu bahwa tempat asal kami memiliki kisah dan tokoh-tokoh penting yang pernah hidup di masa lalu.
Awalnya jalannya cukup mudah, tanahnya padat dan tidak terlalu menanjak. Namun setelah berjalan beberapa meter, setapak yang tampak seperti satu-satunya jalur mulai sulit dilewati. Medannya berubah menjadi tanjakan tanah liat yang licin, penuh daun kering, tertutup semak merambat, dan terhalang batang-batang pohon kecil yang tumbang. Entah karena sudah lama tidak dilewati orang, atau karena hujan yang membuat jalurnya rusak di lereng bukit itu. Saya sempat ragu untuk melanjutkan, tapi rasa penasaran membuat saya tetap mencoba. Mendaki sambil menggandeng anak kecil ternyata jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan, hingga akhirnya kami memutuskan menyerah di tengah jalan.

Ada rasa kecewa yang sulit dijelaskan, karena ini mungkin satu-satunya kesempatan saya untuk mengulang memori masa kecil, sekaligus memperkenalkan anak saya pada kisah masa lalu tempat kami berasal. Rasanya seperti kehilangan momen penting yang sudah lama saya tunggu.
Sambil terengah-engah di tengah tanjakan, saya sempat berhenti sejenak untuk mengatur napas dan meratapi kegagalan kecil itu. Namun di saat yang sama, pandangan saya menangkap sebuah jalur memutar yang tampak bisa menjadi alternatif. Karena tak mau kehilangan kesempatan, saya memutuskan untuk mencobanya. Ternyata pilihan itu tepat, lewat jalur memutar ini, bagian curam di depan bisa diakses dengan jauh lebih mudah. Di salah satu titik, saya menemukan beberapa makam tua dengan nisan yang bentuknya unik, menyerupai piramid kecil yang memanjang ke atas tapi tanpa ujung runcing. Saya tidak tahu siapa yang dimakamkan di sana, mungkin tokoh-tokoh berpengaruh di masa lalu Srengat juga.
Tak lama kemudian, bangunan makam Ndoro Tedjo tampak di depan mata. Jalan setapaknya cukup curam, diapit semak dan rumpun bambu, tapi sudah berbentuk tangga beton. Anak saya sempat kesulitan menapak, namun akhirnya berhasil mencapai puncak sendiri.
Bangunan makam beratap genteng, dengan pilar-pilar beton yang dicat hijau muda. Bagian pagarnya terdiri dari dua material, sisi bawahnya terbuat dari beton, sementara bagian atasnya berupa pagar besi yang juga dicat hijau, meski kini sudah banyak berkarat. Lantai makam serta badan pusaranya dilapisi keramik berwarna hijau muda, beberapa di antaranya sudah terlepas dari tempatnya.

Di bawah naungan atap terdapat dua makam berdampingan. Makam di sisi barat tampak lebih pendek dan tidak memiliki nama pada nisannya. Sementara di sisi timur terdapat pusara yang lebih panjang, juga tanpa nama di batu nisan, namun di depannya terpasang papan akrilik putih bertuliskan huruf merah “EYANG NDORO TEDJO.” Saya menduga pusara di sisi timur inilah yang merupakan makam sang Wedono pertama Srengat, sementara makam di sisi barat mungkin milik istrinya, meski hingga kini saya belum ada sumber yang dapat memastikan hal tersebut.

Saya tidak lama di sana. Hanya beristirahat sejenak untuk mengatur napas dan mengambil beberapa foto dokumentasi. Hari menjelang sore, istri menunggu di bawah, dan perjalanan kembali ke Depok masih menanti. Suasananya tidak menyeramkan, tetapi jika malam datang, bayangan pohon tinggi di sekitar makam mungkin akan terasa lain.
Meski kunjungan itu singkat, ada perasaan yang sulit digantikan. Saya kembali ke tempat yang dulu saya datangi sebagai anak kecil, kini bersama anak saya sendiri. Sebuah lingkaran kecil waktu yang terasa penuh makna, perjalanan singkat yang menyambungkan kenangan pribadi, sejarah lokal, dan rasa ingin menjaga ingatan tentang tempat asal kami agar tak hilang begitu saja.