Gunung Pegat, Blitar

Gunung Pegat adalah bentang alam yang membujur di bagian barat Kabupaten Blitar. Meski disebut gunung, secara morfologi kawasan ini lebih tepat dikategorikan sebagai bukit karena ketinggiannya relatif rendah. Rangkaian bukit ini secara alami menjadi batas wilayah antara Kecamatan Srengat di sisi selatan dan Kecamatan Ponggok di sisi utara, sekaligus membentuk lanskap khas kawasan tersebut.
Nama

Nama Gunung Pegat diduga berasal dari kondisi topografi perbukitan ini yang terbagi menjadi dua bagian dan terpisah oleh jalan di antaranya. Kata pegat dalam bahasa Jawa berarti putus atau terpisah, yang dianggap mencerminkan bentuk fisik kawasan tersebut.
Selain penjelasan topografis, penamaan ini juga berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat. Secara turun-temurun berkembang cerita bahwa pasangan atau pengantin yang melintas di kawasan Gunung Pegat dipercaya dapat mengalami perpisahan atau perceraian. Cerita inilah yang turut menguatkan penggunaan nama Pegat hingga kini.
Nama Gunung Pegat tidak hanya digunakan di Kabupaten Blitar. Di beberapa wilayah lain di Pulau Jawa, nama yang sama juga ditemukan dan merujuk pada lokasi perbukitan atau kawasan tertentu. Beberapa di antaranya berada di Tulungagung, Mojokerto, Lamongan, Wonogiri, dan Sukoharjo. Hal ini menunjukkan bahwa istilah Pegat cukup umum digunakan dalam penamaan tempat, baik karena faktor bentuk alam maupun pengaruh kepercayaan lokal yang berkembang di masing-masing daerah.
Gunung Pegat Menurut Junghuhn

Dalam perjalanannya dari Ceribon menuju Blitar pada tahun 1844, Franz Wilhelm Junghuhn melintasi wilayah Kawedanan Srengat. Dalam bukunya Java, Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi, en Inwendige Bouw, ia menyebut Gunung Pegat sebagai Pekêt. Junghuhn menduga perbukitan ini terbentuk dari lontaran material vulkanik yang berasal dari Gunung Kelud. Pada masa itu, kawasan Gunung Pegat digambarkan tertutup hutan yang kurang lebat.