Stasiun Bendo, Blitar

Stasiun Bendo (BDO) adalah stasiun kereta api nonaktif yang dibangun oleh perusahaan kereta api milik negara Hindia Belanda, Staatssporwegen (SS) pada akhir abad 19.
Nama
Meskipun bernama Bendo, stasiun kecil ini tidak berada di Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, melainkan di Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Warga setempat juga menyebutnya Bendosendung karena lokasinya di Dusun Sendung.
Pada masa Hindia Belanda, stasiun kecil disebut “halte,” sehingga nama resminya dulu adalah Halte Bendo. Hanya Kediri, Tulungagung, dan Blitar di jalur ini yang memiliki pemberhentian berstatus “stasiun.”
Kesamaan Nama
Di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, terdapat stasiun nonaktif bernama serupa, yaitu Stasiun Bendo (BEO). Bedanya, stasiun ini dibangun oleh perusahaan trem swasta Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM).
Di petak antara Purwosari-Solokotta dulunya juga terdapat Halte Bendo (BED) yang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).
Sejarah
Pembangunan
Stasiun Bendo dibangun bersamaan dengan dibangunnya jalur kereta Kertosono-Blitar oleh SS. Lintas ini merupakan lintas cabang dari oosterlijnen yang dibangun pada periode 1881-1884.
Operasional
Entah kapan tanggal pasti Halte Bendo ini dibuka, mungkin bersamaan atau tak jauh berbeda dengan pembukaan Stasiun Blitar pada 16 Juni 1884.
Seperti pemberhentian kereta api lainnya, Halte Bendo berfungsi sebagai sarana transportasi untuk komoditas dagang, penumpang, dan kebutuhan militer.
Penutupan
Tanggal pasti penutupan Stasiun Bendo juga tidak tercatat, namun namanya masih muncul dalam Buku Jarak Untuk Angkutan Barang Jawa dan Madura terbitan PJKA pada Mei 1982. Kemungkinan, stasiun ini ditutup antara tahun 1982 hingga dekade 1990-an.
Bangunan
Hilangnya struktur utama serta ketiadaan foto atau sketsa, membuat bentuk Stasiun Bendo menjadi misteri hingga kini.
Dulunya Stasiun Bendo memiliki dua jalur kereta api, namun kini yang tersisa hanyalah satu jalur lurus saja. Bangunan stasiun, peron, dan emplasemen sudah tak terlihat namun masih menyisakan bekasnya yang tertutup oleh rumput dan ilalang.
Pada sisi barat bekas stasiun terdapat bangunan berupa rumah dinas yang saat ini masih berdiri kokoh walau terbengkalai. Pada tahun 2006 rumah dinas ini sempat dihuni oleh manajer KAI area Blitar namun akhirnya ditinggalkan pada tahun 2015.
Kecelakaan
De Indische Courant pada 18 Mei 1928 memberitakan kecelakaan yang menimpa seorang pekerja Staatsspoorwegen (SS). Pekerja tersebut terjatuh ke rel saat duduk di atas kereta barang, mengakibatkan kakinya terlindas kereta api. Insiden tersebut terjadi di emplasemen Halte Bendo pada 16 Mei. Pasca kejadian, korban segera dilarikan ke Blitar.
Berdasarkan laporan surat kabar De Locomotief edisi 23 Agustus 1938, sebuah kecelakaan kereta api terjadi di sekitar Halte Bendo. Korban, seorang wanita tuna rungu, tewas setelah tertabrak kereta api pagi jurusan Blitar-Kediri.