Petaka Tempe Bongkrek di Srengat pada Masa Hindia Belanda

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
23 Desember 2024
Buah Kelapa Kupas
Buah Kelapa Kupas. Foto: Samer Daboul

Dikutip dari surat kabar Nieuwe Haarlemsche Courant edisi 9 Mei 1940, terjadi insiden keracunan tempe di Srengat yang menimpa sebuah keluarga. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Setelah mengonsumsi tempe bungkil, kedua anak meninggal dunia, sementara orang tuanya selamat. Disebutkan bahwa penjualan tempe bungkil sudah dilarang di Srengat, tetapi tempe yang menyebabkan keracunan ini dibeli di Ngunut, Regentschap Tulungagung.

Menurut KBBI, “bungkil” adalah ampas hasil pengolahan bahan seperti kacang, kedelai, atau kelapa setelah minyaknya diambil. Jadi tempe bungkil merupakan jenis tempe yang dibuat dari campuran kedelai dan bungkil. Tempe bungkil yang terbuat dari campuran bungkil kelapa biasa disebut dengan “tempe bongkrek,” tempe ini sering dikaitkan dengan berbagai kasus keracunan tempe.

Kejadian keracunan tempe bongkrek sudah beberapa kali terjadi di Hindia Belanda. Dikutip dari Historia, wabah keracunan tempe bongkrek pertama kali dicatatkan oleh otoritas pada 1895. Pada 1902, ilmuwan Belanda Adolf G. Vorderman menggambarkan beberapa jenis tempe bongkrek dan mencatat bahwa tempe ini dapat menyebabkan keracunan makanan fatal.

Keracunan massal yang lebih jelas tercatat pada 1931–1937, saat Hindia Belanda mengalami krisis malaise atau depresi ekonomi. Penduduk desa mulai membuat tempe bongkrek sendiri alih-alih membeli dari pembuat berpengalaman, yang menyebabkan banyak kasus keracunan. Setiap tahun, tempe bongkrek menyebabkan 10–12 kematian.

Diperbarui pada 24 Januari 2025