Halte Gebang, Blitar

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
6 Februari 2025
Halte Gebang 2020
Bangunan Halte Gebang. Sumber: Wikimedia

Halte Gebang (GEL) adalah pemberhentian kereta api nonaktif di Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Bersama Halte Bendo dan Stopplaats Plampangan, halte ini termasuk tiga pemberhentian yang telah berhenti beroperasi di jalur Kertosono-Malang.

Nama

Nama halte ini diambil dari kampung tempatnya berada, yakni Kampung Gebang, Kelurahan Sananwetan. Tak jauh dari halte ini berdiri Istana Gebang, yang merupakan kediaman orang tua Presiden RI pertama, Soekarno. Bangunan bergaya kolonial ini dulunya adalah rumah salah satu pegawai Staatssporwegen dan dibangun bersamaan dengan pembagunan Stasiun Blitar pada 1884.

Dalam Buku Jarak terbitan KAI tahun 2004, entah kenapa halte ini disebut dengan Gelang atau disingkat GEL. Di Sumatera Utara, ada pemberhentian kereta dengan nama serupa, yaitu Stasiun Gebang (GBG).

Sejarah

Jadwal kereta api tahun 1899. Sumber: Perpustakaan Universitas Leiden.

Berbeda dari Bendo dan Plampangan, bukti sejarah Halte Gebang sulit ditemukan. Tidak ada dokumen, foto, atau peta masa kolonial yang menunjukkan keberadaannya.

Minimnya arsip dari era Hindia Belanda menimbulkan dugaan bahwa halte ini mungkin bukanlah bagian proyek Staatspoorwegen Oosterlijnen ketika membangun jalur kereta Blitar–Malang, khususnya seksi Blitar–Wlingi yang rampung pada 10 Januari 1896.

Pembangunan

Menurut kanal YouTube Pecinta Sejarah, Halte Gebang diperkirakan dibangun pada masa Djawatan Kereta Api (DKA), yakni sekitar tahun 1950 hingga 1963.

Penutupan

Menurut penuturan warga dalam video yang diunggah Bambang Setyawan, Halte Gebang diperkirakan berhenti beroperasi antara 1973-1976. Seperti stasiun nonaktif KAI lainnya, tidak ada dokumentasi pasti tentang tanggal penutupannya.

Bangunan

Halte Gebang dan Halte Bendo merupakan dua pemberhentian nonaktif yang posisinya mengapit Stasiun Blitar. Halte Bendo berada di sisi barat, sementara Halte Gebang di sisi timur. Dibandingkan Bendo, kondisi Gebang bisa dibilang lebih beruntung, karena bangunannya masih berdiri hingga sekarang.

Dokumentasi lama mengenai Halte Gebang tidak banyak ditemukan, baik dalam bentuk foto maupun video. Namun dari beberapa dokumentasi yang lebih baru, terlihat bahwa bangunan halte ini didominasi material kayu, dengan atap seng yang sudah tampak berkarat. Tiang dan papan kayunya dicat abu-abu dengan kesan kusam, sementara papan nama “GEBANG” terlihat sederhana, seperti dibuat secara manual. Di dalamnya terdapat empat bangku cor, dengan lantai berbahan semen. Letaknya yang berdekatan dengan warung membuat halte ini sempat menjadi bagian dari aktivitas harian warga, termasuk difungsikan sebagai pangkalan ojek.

Renovasi 2025

Mengacu pada pemberitaan beberapa media lokal di Blitar, pada akhir 2025 pihak KAI melakukan pemugaran Halte Gebang. Selain memperbarui kondisi bangunan, direncanakan pula penempatan patung Bung Karno sebagai penanda nilai historisnya. Menariknya, tulisan “GEBANG” yang lama dan kusam tetap dipertahankan, termasuk warna latar warna putihnya.

Halte Gebang di Maret 2026
Halte Gebang di Maret 2026

Saat saya berkunjung pada Lebaran 2026, halte ini sudah tampil dengan wajah yang berbeda. Atap seng yang sebelumnya berkarat telah diganti dengan material yang tampak seperti galvalum, memberikan kesan lebih bersih dan terawat. Pilar serta papan kayu kini berwarna cokelat natural, kemungkinan dilapisi vernis.

Bangku cor semen yang dulu ada sudah tidak lagi terlihat. Lantai masih menggunakan semen, namun bagian dalamnya dihiasi sebaran batu koral putih. Di titik tengah terdapat semacam pedestal, meski belum terlihat adanya patung Bung Karno seperti yang sempat direncanakan. Saat itu, hanya terlihat dua warga duduk di atasnya. Belum jelas apakah patung tersebut memang belum dipasang atau rencananya berubah.

Area sekitar halte juga tampak lebih tertata, dengan tambahan tanaman hias dan beberapa lampu taman yang memperkuat kesan rapi dan terawat.