Stasiun Mlati, Sleman
Stasiun Mlati (MLI) atau dulu dikenal dengan Halte Mlati adalah pemberhentian kereta api kecil nonaktif yang terletak di Sendangadi, Mlati, Sleman. Pemberhentian yang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) berada di jalur trem Yogyakarta-Magelang, posisinya di antara Stasiun Kutu dan Stasiun Beran.
Nama

Penamaan Stasiun Mlati mengikuti nama wilayah tempat pemberhentian ini berada, sebagaimana menjadi praktik umum dalam penamaan stasiun kereta api di Indonesia. Peta yang diterbitkan Lembaga Topografi Hindia Belanda pada tahun 1920 mencantumkan kawasan tersebut dengan nama Mlati, meskipun dalam beberapa sumber kolonial juga ditemukan variasi ejaan Melattie.
Sejarah
Pembangunan
Pemberhentian Mlati diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-19 dan mulai beroperasi bersamaan dengan dibukanya jalur trem Yogyakarta-Magelang pada 1 Juli 1898. Pada awalnya, pemberhentian ini hanya berstatus stopplaats. Berdasarkan pengumuman yang dimuat dalam surat kabar De Locomotief edisi 13 Desember 1921, NIS kemudian meningkatkan statusnya menjadi halte. Bersamaan dengan Jambu (JMB) di jalur Jogja-Ambarawa, Halte Mlati resmi mulai beroperasi dengan status barunya pada 15 Desember 1921.
Penutupan
Seperti halnya pemberhentian lain di jalur trem Yogyakarta-Magelang, Stasiun Mlati ditutup seiring dengan penghentian operasional jalur tersebut. Penutupan ini merupakan dampak tidak langsung dari rangkaian erupsi Gunung Merapi pada periode 1972-1974 yang memicu banjir lahar dingin dan mengakibatkan putusnya Jembatan Krasak pada awal 1975, sehingga jalur tidak lagi dapat dioperasikan.
Bangunan

Dalam video yang diunggah pada tahun 2016, kanal YouTube Maybi Prabowo mendokumentasikan bekas bangunan Stasiun Mlati. Dokumentasi tersebut memperlihatkan bahwa bangunan telah dialihfungsikan menjadi pos polisi, sehingga tidak lagi menampilkan ciri khas sebagai bekas pemberhentian kereta api. Bangunan ini berdiri di samping Gereja Santo Aloysius. Menurut Maybi, kedekatan lokasi tersebut mengindikasikan bahwa Halte Mlati kemungkinan dahulu dibangun untuk memudahkan akses transportasi bagi jemaat gereja, meskipun belum ditemukan sumber sejarah yang secara eksplisit mengonfirmasi hal tersebut. Video tersebut juga menampilkan denah asli halte saat masih beroperasi yang terdiri atas ruang tunggu penumpang, ruang kepala stasiun, dan gudang.
Kecelakaan
Berdasarkan pemberitaan surat kabar De Locomotief edisi 4 Agustus 1930, terjadi kecelakaan di dekat Halte Mlati yang mengakibatkan seorang pribumi tewas tertabrak kereta api. Menurut laporan tersebut, korban yang kelelahan akibat kurang tidur beristirahat dengan berbaring di sisi rel. Karena kejadian berlangsung pada malam hari, masinis tidak sempat melihat keberadaan korban. Kondisi tersebut diperparah oleh pakaian dan ikat kepala korban yang seluruhnya berwarna hitam sehingga menyulitkan proses identifikasi dari lokomotif yang melaju. Setelah kejadian, jenazah korban diserahkan kepada Asisten Wedono Mlati.