Kabupaten Srengat Pernah Dipimpin R.M.A. Jayengrat?

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
7 Februari 2026

Artikel atau postingan soal Kabupaten Srengat dan para bupati yang pernah memimpin sebenarnya sudah banyak beredar di internet. Masalahnya, sebagian besar tidak menyertakan referensi yang jelas, jadi sulit dijadikan rujukan sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan. Kita tentu tidak ingin mengandalkan informasi yang asal-asalan atau bersumber dari “trust me bro”.

Saya sendiri tidak ingin langsung mempercayai informasi yang beredar begitu saja. Karena itu, saya mencoba menelusuri sumber-sumber yang lebih dapat dipercaya sebagai rujukan, baik dari buku karya penulis kredibel maupun catatan sejarah resmi, termasuk rilis pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dari proses itu, ada beberapa nama bupati Srengat yang bisa saya pastikan kebenarannya.

Contohnya R.T. Mertodiningrat yang tercatat dalam Kuasa Ramalan karya Peter Carey, De Java-oorlog van 1825–30 karya De Klerck, serta diperkuat dengan keberadaan makamnya di Trenggalek. Selain itu, dalam buku De Klerck juga terdapat nama bupati Srengat lainnya yakni R.T. Brottowidjojo. Nama lain yang terkonfirmasi adalah R.Ng. Mertokusumo. Walaupun statusnya “hanya” sebagai onder-regent menggantikan ayahnya pasca Perjanjian Sepreh, namanya muncul dalam Almanak van Nederlandsch Indië tahun 1832 dan makamnya pun berada di Trenggalek.

Sampul Babad Ranggawarsita
Sampul Babad Ranggawarsita

Belakangan saya menemukan referensi baru tentang siapa saja bupati yang pernah menjabat di wilayah Srengat. Sumber ini saya temukan dalam Babad Rônggawarsita terbitan Komite Rônggawarsitan pada 1930-an. Di jilid pertama babad tersebut diceritakan bahwa calon mertua Bagus Burham (nama muda Raden Ngabehi Ranggawarsita), yang saat itu menjabat sebagai bupati Kediri, sempat berkunjung ke Srengat. Dalam kunjungan itu ia bertemu dengan kakaknya yang menjabat sebagai bupati Srengat, yaitu Radèn Mas Adipati Arya Jayèngrat.

Latar Belakang R.M.A. Jayengrat

Dalam Babad Rônggawarsita disebutkan bahwa R.M.A. Jayengrat adalah kakak dari Kanjeng Pangeran Adipati Arya Cakradiningrat yang menjabat Bupati Kediri, serta R.M.A. Ranèngrat yang menjabat Patih Kediri saat itu. Tidak dijelaskan secara lengkap berapa jumlah saudara mereka. Ayah mereka adalah Gusti Panembahan Buminata, putra dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Jadi, Bupati Srengat Jayengrat merupakan cucu atau keturunan dari PB III.

Masa Jabatan R.M.A. Jayengrat

Sayangnya, Babad Rônggawarsita hanya menyinggung nama Jayengrat secara singkat tanpa memberikan detail masa jabatannya sebagai Bupati Srengat. Meski begitu, jika kita memperhatikan alur waktu dalam babad tersebut, kita bisa memperkirakan kapan ia menjabat.

Bagus Burham kabarnya “minggat” dari Pesantren Kiai Imam Besari setelah sekitar satu tahun belajar di Ponorogo. Ia dititipkan ke pesantren itu pada usia 12 tahun. Jika Bagus Burham lahir pada 1802, berarti pertemuannya dengan K.P.A.A. Cakradiningrat di Madiun terjadi sekitar 1815. Tidak lama setelah pertemuan itu, Cakradiningrat berkunjung ke Srengat untuk menemui kakaknya, Jayengrat.

Dari urutan peristiwa tersebut, besar kemungkinan R.M.A. Jayengrat menjabat sebagai Bupati Srengat pada kisaran tahun 1810-an dan masih menjabat setidaknya hingga 1815. Kemungkinan beliau menjabat sebelum masa R.T. Mertodiningrat. Dalam buku Peter Carey, Mertodiningrat tercatat sebagai bupati dan terlibat dalam skandal Iman Sampurna pada tahun 1819. Artinya, perpindahan kekuasaan antara Jayengrat ke Mertodiningrat di Srengat kemungkinan terjadi dalam rentang waktu antara 1815 hingga 1819.

Kemungkinan Mutasi Menjadi Bupati Ngrowo

Dalam Almanak van Nederlandsch Indië tahun 1831, tercantum nama Radeen Adipattie Djajeng Ningrat sebagai Bupati Ngrowo. Ada kemungkinan nama ini merujuk pada R.M.A. Jayengrat, hanya dengan ejaan yang berbeda. Nama tersebut terus muncul hingga Almanak van Nederlandsch Indië tahun 1849, ketika ditulis sebagai Raden Adipatti Djaijan Ningrat.

Perbedaan ejaan seperti ini cukup umum ditemukan dalam dokumen-dokumen pada masa tersebut. Nama adiknya pun kadang ditulis sebagai Cakraningrat, bukan Cakradiningrat. Meski demikian, dugaan bahwa Djajeng Ningrat adalah orang yang sama dengan Jayengrat masih perlu divalidasi lebih lanjut.

Jika dugaan ini benar, maka hubungan keluarga Jayengrat dengan Srengat rupanya tidak terputus begitu saja. Putranya, Djajeng Koesoemo, kelak disebut menjabat sebagai Wedono Srengat, menurut beberapa sumber sekitar tahun 1849.

Diperbarui pada 22 September 2026