Laha: Griffin Versi Jawa yang Dilupakan

Di antara banyaknya kisah mistis yang bertahan hingga masa modern, terdapat pula legenda dan makhluk mitologi lokal yang terpinggirkan, bahkan dilupakan. Salah satunya adalah Laha, makhluk mistis yang dahulu dipercaya oleh masyarakat Jawa namun kini nyaris tidak pernah lagi diucapkan atau ditemukan dalam literatur modern.
Nama Laha kini hanya tersimpan dalam catatan tua karya seorang javanolog abad ke-19, H.A. van Hien, dalam bukunya yang berjudul De Javaansche Geestenwereld en de Betrekking. Dalam buku tersebut, Laha digambarkan sebagai makhluk berukuran besar, berkaki empat, berkepala burung pemangsa, serta memiliki kemampuan terbang. Menariknya, walaupun tampak mengerikan, Laha dipercaya tidak membahayakan manusia secara langsung, namun kehadirannya menjadi pertanda buruk bagi hewan ternak, yang dipercaya akan jatuh sakit atau mati apabila bertemu makhluk ini.
Secara deskripsi fisik, sosok Laha tentu saja akan mengingatkan kita pada Griffin, makhluk mitologi yang dikenal luas di Eropa, Mesir, dan Persia. Meski ada kemiripan fisik antara keduanya, perilaku mereka berbeda secara signifikan. Jika Griffin sering dikaitkan dengan kekuatan, penjagaan harta karun, atau simbol kewibawaan, Laha justru hadir sebagai sosok pembawa malapetaka untuk hewan ternak.
Mengapa makhluk seperti Laha bisa muncul dalam kepercayaan masyarakat dahulu? Dugaan kuat adalah karena terbatasnya pemahaman masyarakat pada masa lampau tentang penyebab penyakit ternak. Di tengah kebingungan menghadapi kematian atau penyakit yang menyerang hewan peliharaan mereka, masyarakat menciptakan gambaran makhluk mistis yang bertindak sebagai “kambing hitam”. Selain Laha, ada banyak lagi makhluk lain yang dipercaya bertanggung jawab atas berbagai kemalangan serupa.
Sayangnya, informasi tentang Laha sangat terbatas karena hanya digambarkan singkat oleh van Hien. Selain itu, masyarakat Jawa modern juga tidak lagi menyimpan atau menceritakan kisah tentang makhluk ini. Akibatnya, legenda tentang Laha semakin lama semakin pudar, tenggelam dalam lipatan waktu.
Meski demikian, cerita tentang Laha mengingatkan kita bahwa kepercayaan tradisional merupakan jendela untuk memahami bagaimana nenek moyang kita berusaha memahami fenomena alam yang tak dapat mereka jelaskan pada masa lalu. Mengenal kembali makhluk seperti Laha adalah bagian kecil dari upaya kita dalam menjaga warisan budaya yang kian terlupakan.