Kisah Pangeran Prabu, Imam Sampurna, hingga Mbah Cingkrang

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
8 Februari 2026
Jamasan Gong Kiai Pradah
Jamasan Gong Kiai Pradah. Sumber: Pemkab Blitar

Dalam bukunya Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan di Jawa 1785–1855, Peter Carey tidak hanya menulis tentang Pangeran Diponegoro. Ia juga mengulas sejumlah tokoh yang muncul beberapa tahun sebelum pecahnya Java Oorlog (Perang Jawa). Salah satu tokoh yang disebut adalah Iman Sampurna, seorang figur yang gerakannya berkembang di wilayah Kabupaten Srengat dan sempat membuat penguasa Surakarta merasa resah.

Tokoh ini muncul dalam konteks apa yang oleh Carey disebut sebagai periode “gerakan Ratu Adil”. Untuk menyusun profil Iman Sampurno, Carey menggunakan berbagai sumber arsip, terutama terjemahan serta catatan pengadilan perdata (pradata) dan pengadilan agama (surambi) di Surakarta. Dokumen-dokumen tersebut berasal dari arsip Keresidenan Surakarta yang mencakup periode 1819–1822.

Di luar penjelasan Carey, masyarakat Blitar ternyata memiliki versi kisahnya sendiri tentang tokoh ini. Dalam tradisi lisan setempat, namanya disebut sedikit berbeda, yakni “Imam” Sampurna. Kisahnya pun sering dikaitkan dengan pusaka legendaris Gong Kiai Pradah. Salah satu rujukan yang mencatat versi cerita rakyat ini dapat ditemukan dalam Sari Warta: Kesejahteraan dan Nilai Tradisional, edisi 1, Agustus 1994.

Latar Belakang

Dalam versi cerita rakyat yang dimuat dalam Sari Warta, disebutkan bahwa Imam Sampurna dipercaya sebagai putra Pakubuwono I dengan nama Pangeran Prabu. Versi ini jelas berbeda dengan penjelasan Peter Carey, yang menulis bahwa tokoh tersebut berasal dari Desa Ampel di Kawedanan Nyamplungan, Surabaya.

Perbedaan asal-usul ini juga berpengaruh pada penentuan waktu hidup tokohnya. Jika mengikuti versi tradisi lisan, maka kisah Imam Sampurna harus ditempatkan jauh lebih awal, yakni pada awal abad ke-18, pada masa pemerintahan Pakubuwono I. Sementara itu, menurut catatan sejarah yang digunakan Carey, tokoh Iman Sampurno justru hidup jauh lebih kemudian, yakni pada penghujung masa pemerintahan Pakubuwono IV, sekitar awal abad ke-19.

Dibuang ke Hutan Lodoyo

Dalam versi cerita rakyat yang dicatat dalam Sari Warta, Pangeran Prabu disebut sebagai putra raja dari seorang garwa ampeyan atau selir. Pada awalnya ia bahkan disebut-sebut sebagai calon penerus takhta, karena garwa padmi atau permaisuri belum memiliki keturunan. Namun keadaan berubah ketika sang permaisuri kemudian melahirkan seorang putra laki-laki.

Untuk menghindari kemungkinan perebutan kekuasaan yang dapat berujung pada perang saudara, sang Sunan disebut mengambil jalan tengah. Pangeran Prabu diminta meninggalkan keraton dan pergi ke hutan Lodoyo untuk melakukan babad alas untuk membuka wilayah baru. Pada masa itu hutan Lodoyo dikenal sebagai tempat yang wingit dan diyakini memiliki kekuatan gaib. Karena itu ia dibekali sebuah pusaka, Gong Kiai Macan yang kemudian lebih dikenal sebagai Gong Kiai Pradah, yang dalam cerita tutur dipandang sebagai semacam tumbal atau penolak bala.

Jika dilihat sepintas, langkah ini bisa dianggap sebagai upaya memperluas wilayah kekuasaan. Namun dalam penuturan masyarakat, keputusan tersebut lebih sering dimaknai sebagai cara halus untuk mencegah konflik dalam keluarga kerajaan. Pangeran Prabu sendiri digambarkan memahami maksud ayahnya. Meski berasal dari keluarga raja, ia disebut tidak tertarik mendirikan kerajaan baru karena dalam versi ini ia digambarkan sebagai seorang ulama. Di hutan Lodoyo ia justru mendirikan sebuah pondok tempat mengajar agama. Pondok Pangeran Prabu yang kemudian dikenal sebagai Panembahan Imam Sampurna itu perlahan berkembang dan menarik semakin banyak murid yang datang untuk berguru.

Sementara itu, catatan yang digunakan oleh Peter Carey memberikan gambaran yang berbeda mengenai alasan Iman Sampurno hijrah ke Lodoyo. Dalam sumber arsip Surakarta disebutkan bahwa ia dikenal sering melakukan ziarah ke berbagai tempat keramat. Salah satu yang paling penting adalah Gunung Lawu, yang pada masa itu dipercaya sebagai tempat bersemayamnya “raja” dunia arwah Jawa, Sunan Lawu. Dari salah satu semedinya di gunung tersebut, Iman Sampurno disebut memperoleh semacam pengajaran spiritual yang kemudian mendorongnya pergi ke hutan Lodoyo.

Laporan Bupati Srengat ke Kartasura

Perkembangan pondok dan semakin banyaknya pengikut Pangeran Prabu akhirnya sampai juga ke telinga Bupati Srengat, Pangeran Mertodiningrat. Namun dalam versi cerita rakyat ini, sikap sang bupati berbeda dengan yang ditulis oleh Peter Carey. Dalam kisah tutur tersebut, Bupati Srengat justru tidak berpihak kepada Pangeran Prabu dan memilih melaporkan keadaan itu ke Kartasura.

Mendengar laporan tersebut, Pakubuwono I dikisahkan mengirim pasukan untuk menindaklanjuti situasi di Lodoyo, bahkan disebut pula dibantu oleh kompeni. Mengetahui hal ini, Pangeran Prabu memilih menghindari bentrokan. Ia melarikan diri ke hutan Kedung Bunder dan mengganti namanya menjadi Mbah Cingkrang. Dalam penuturan masyarakat setempat, kata cingkrang sering dimaknai sebagai “maksud beliau belum tercapai”. Sejak saat itu ia disebut menetap di Kedung Bunder hingga akhir hayatnya, dan makam Mbah Tjingkrang kemudian dikenal sebagai salah satu punden keramat.

Catatan yang digunakan oleh Peter Carey justru memberikan gambaran yang berbeda. Dalam arsip Surakarta disebutkan bahwa Raden Tumenggung Mertodiningrat bersama beberapa tokoh terkemuka di Kabupaten Srengat justru mendukung ajaran Iman Sampurno. Dukungan inilah yang kemudian membuat sang bupati pada akhirnya ia diberhentikan dari jabatannya.

Menariknya, penyebutan nama Mertodiningrat dalam versi cerita lisan ini justru memperlihatkan adanya ketidaksesuaian dengan fakta sejarah yang bisa ditelusuri. Bupati Mertodiningrat dikenal sebagai tokoh yang hidup dan menjabat pada abad ke-19. Hal ini tidak hanya tercatat dalam buku Carey, tetapi juga dapat dilihat dari sumber lain, seperti dokumen Perjanjian Sepreh maupun inskripsi pada makam Mertodiningrat yang menunjukkan angka tahun 1830. Dengan demikian, terdapat selisih waktu sekitar satu abad antara masa hidup Mertodiningrat dan alur kisah Pangeran Prabu sebagaimana diceritakan dalam tradisi lisan tersebut.

Menyikapi Perbedaan Versi

Itulah gambaran kisah Imam Sampurna dalam versi cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Blitar. Versi ini jelas memiliki sejumlah perbedaan mendasar dengan rekonstruksi sejarah yang disampaikan oleh Peter Carey, baik dalam hal asal usul tokoh maupun penempatan waktunya.

Tradisi lisan semacam ini tentu tetap memiliki nilai. Ia merekam cara suatu komunitas memahami masa lalu, menautkan tokoh dengan pusaka, ruang sakral, serta identitas lokal. Dalam konteks itu, kisah tentang Pangeran Prabu dan Gong Kiai Pradah adalah bagian dari khazanah budaya yang layak dihormati.

Namun, penting untuk membedakan antara cerita rakyat dan fakta sejarah yang dapat diverifikasi melalui sumber tertulis, inskripsi, maupun data kronologis yang jelas. Menghargai cerita bukan berarti menempatkannya sebagai kebenaran historis. Ia sebaiknya dipahami sebagai warisan naratif masyarakat, bukan sebagai rujukan utama dalam penulisan sejarah.

Diperbarui pada 8 Maret 2026