Highland Camp: Cerita Camping Kedua Kami

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
11 Oktober 2025
Tenda Highland Camp
Tenda Kami di Malam Hari

Camping pertama kami di Situ Gunung memang tidak berjalan semulus bayangan, tetapi pengalaman itu justru membuat kami ingin menjadikannya sebagai aktivitas rutin keluarga. Rencananya kami ingin camping setidaknya sekali setiap bulan sambil perlahan melengkapi peralatan agar kegiatan ini semakin nyaman dan proper.

Memasuki awal Oktober tibalah waktunya untuk camping kedua. Kali ini kami memilih Highland Camp yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Curug Panjang, Megamendung. Kami sudah lama mengetahui tempat ini melalui channel Herina Firdausi. Meskipun beberapa video YouTube lain menunjukkan bahwa medan menuju lokasi cukup menantang karena menanjak, berbatu, dan relatif sempit, pemandangan di campsite tersebut terlalu indah untuk dilewatkan. Karena itu walaupun terasa kurang ideal bagi kami, kami tetap memutuskan untuk mencoba camping di sana.

Persiapan

Berbeda dengan camping sebelumnya, untuk trip kali ini kami memutuskan untuk melakukan reservasi terlebih dahulu. Kami khawatir campsite ini penuh karena cukup populer terutama pada akhir pekan. Istri saya melakukan pemesanan melalui WhatsApp dan respons dari staf Highland cukup cepat. Dalam proses komunikasi mereka menanyakan zona yang ingin kami pilih. Karena belum terlalu familiar dengan lokasi, kami akhirnya memilih Ciputri secara acak. Dalam proses reservasi mereka hanya mencatat detail kami tanpa meminta pembayaran di muka.

Flysheet Decathlon Quechua
Flysheet Camping Multifungsi Tarp Shelter Fresh. Sumber: Decathlon

Selain melakukan reservasi, kami juga menyiapkan banyak perlengkapan tambahan. Sebagian besar kami beli berdasarkan pengalaman dari camping pertama. Beberapa di antaranya adalah sleeping bag, terpal alas tenda, flysheet, lampu LED, senter kepala, kantong air lipat, ember lipat, meja camping, stop kontak outdoor, cooking set, peralatan makan, matras angin, serta beberapa perlengkapan kecil lainnya.

Untuk kebutuhan makan selama camping, kami berencana memasak Nasi Tuna, Bakmi Godog, dan Kimchi Jjigae. Kami sudah membeli berbagai bahan dan beberapa bumbu juga telah kami siapkan dari rumah

Hari Keberangkatan

Di hari keberangkatan kami berangkat lebih pagi karena lokasi campsite berada di kawasan Puncak. Pada akhir pekan situasi macet di Puncak sudah menjadi hal yang biasa, jadi kami ingin mengantisipasinya. Kami menggunakan Google Maps seperti biasa untuk membantu navigasi. Saat berada di tol Jagorawi, Google Maps tiba-tiba mengarahkan kami keluar menuju Summarecon. Karena terasa janggal, kami memutuskan untuk tetap mengikuti jalur utama ke arah Ciawi. Sebelum keluar tol kami sempat berhenti di rest area untuk ke toilet dan membeli telur serta mi instan sebagai tambahan perbekalan.

Di rest area itu kami baru sadar alasan Google Maps memilih rute alternatif. Hari keberangkatan kami ternyata bertepatan dengan tanggal genap sedangkan mobil kami berpelat ganjil. Di jalur Puncak aturan ganjil genap memang diberlakukan setiap akhir pekan. Ada risiko kami diberhentikan polisi dan diminta putar balik. Namun karena sudah terlanjur salah, kami memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan sambil berharap situasi memungkinkan.

Saat keluar tol di Gadog arus lalu lintas mulai merayap. Kami sempat khawatir karena mengira ada pemeriksaan ganjil genap di depan. Ternyata di area Gadog belum ada penyekatan, mungkin karena masih terlalu pagi, sehingga kami bisa terus melanjutkan perjalanan ke arah atas.

Perjalanan di sepanjang jalur Puncak berjalan cukup lancar. Kami terus naik hingga area Cimory Dairyland Riverside, kemudian Google Maps mengarahkan kami untuk belok kiri memasuki Jalan Cilember. Jalan di sini cukup sempit sehingga setiap kali berpapasan dengan mobil lain kami harus menurunkan kecepatan. Kami tetap mengikuti petunjuk Google Maps sebagai satu-satunya alat navigasi.

Navigasi Menyesatkan dari Google Maps Menuju Highland Camp
Navigasi Menyesatkan dari Google Maps Menuju Highland Camp

Sesampainya di percabangan Jalan Situhiang, Google Maps mengarahkan kami untuk lurus. Namun ada warga yang berjaga dan menanyakan tujuan kami. Setelah mengetahui kami hendak ke Highland, warga mengarahkan kami ke jalur kecil berbatu di sisi kiri, yang ternyata sesuai dengan papan petunjuk yang terpasang di sana. Dari sini kami baru paham bahwa jika menggunakan Google Maps untuk menuju Highland, titik lokasi yang tersedia justru dapat menyesatkan.

Begitu memasuki jalur tersebut, kondisi jalan persis seperti yang kami lihat di beberapa video YouTube. Jalan kecil, berbatu, dan sedikit curam. Di titik ini sinyal Telkomsel yang kami gunakan hilang sepenuhnya sehingga navigasi hanya mengandalkan peta Google Maps yang sudah terunduh. Kami sempat bingung ketika menemui sebuah percabangan, tetapi setelah bertanya kepada warga sekitar akhirnya kami menemukan jalur yang benar.

Mendekati area campsite kondisi jalan kembali menantang. Terdapat tanjakan dan turunan yang cukup tajam dan pada satu bagian kami bahkan harus melintasi aliran sungai. Ada rasa was-was, tetapi syukurlah semuanya bisa kami lewati dengan aman.

Tiba di Campsite

Sesampainya di gerbang Highland, kami bertemu staf yang menanyakan zona tempat kami akan mendirikan tenda. Kami kemudian diarahkan untuk menuju gerbang campsite yang berada lebih atas, dekat pintu masuk Taman Alam Matahari Camping Ground. Alasannya cukup masuk akal, zona yang kami pilih berada lebih dekat dengan pintu atas sehingga akan jauh lebih mudah ketika menurunkan barang.

Di gerbang kedua ini kendaraan kami dibantu untuk parkir di tepi jalan tidak jauh dari pintu masuk. Kami lalu berjalan turun terlebih dahulu menuju area resepsionis untuk melakukan check-in dan pembayaran. Namun karena smartphone kami tidak mendapat sinyal dan jaringan WiFi di campsite sedang rusak akibat tersambar petir, satu-satunya pilihan pembayaran adalah secara tunai. Sebenarnya kami membawa uang cash, tetapi staf Highland menyarankan agar pembayaran dilakukan saat checkout saja untuk berjaga-jaga kalau kami membutuhkan uang tunai selama camping. Saran ini terasa cukup membantu.

Pemandangan Zona Ciputri Highland Camp
Pemandangan Zona Ciputri. Sumber: Highland Camp

Kami kemudian diarahkan untuk memilih lokasi berkemah dan ditemani oleh salah satu staf yang menunjukkan beberapa opsi. Akhirnya kami memilih spot di bagian tengah zona Ciputri, lokasinya tidak terlalu jauh dari toilet sehingga cukup nyaman.

Setelah lokasi tenda ditentukan kami melanjutkan proses menurunkan barang. Jaraknya tidak dekat, harus melewati kontur tanah berundak dan melintasi jembatan kecil. Untungnya staf Highland sangat sigap membantu proses unloading serta memindahkan barang dari mobil ke area tenda. Setelah semua perlengkapan sampai di spot camping, staf juga membawa colokan listrik dan satu lampu penerangan. Ternyata fasilitas tersebut memang sudah termasuk dalam layanan mereka. Colokan outdoor yang kami beli pun akhirnya tidak terpakai, tetapi kami senang karena fasilitas dan pelayanan di campsite ini benar-benar baik.

Kegiatan pertama kami tentu mendirikan tenda. Tidak ada kendala berarti karena kami sudah pernah melakukannya sebelumnya. Untuk memasang flysheet, kami sempat sedikit kagok karena baru pertama kali mencobanya, tetapi ternyata flysheet dari Decathlon ini cukup mudah dipasang. Setelah tenda berdiri, kami mulai mengisinya dengan matras angin Alltrek Eterna yang sudah kami beli. Ada dua matras, satu versi single dan satu versi double yang bisa disambungkan. Kami juga menyiapkan dua meja camping yang baru kami beli, yaitu meja lipat Alltrek dan satu meja dari Decathlon.

Setelah seluruh perlengkapan terpasang rapi, kami melanjutkan kegiatan dengan menyiapkan makan siang berupa Nasi Ikan Tuna. Berbeda dengan camping sebelumnya ketika kami membawa nasi matang dari rumah, kali ini kami memasak nasi dari awal menggunakan cooking set Alltrek yang baru kami beli. Di sinilah kami baru menyadari bahwa memasak nasi secara manual di alam terbuka jauh lebih menantang daripada menggunakan rice cooker di rumah. Hasilnya nasi yang kami masak menjadi lembek, sepertinya karena terlalu banyak air. Meskipun begitu nasi tersebut masih bisa kami makan dan anak kami pun tetap lahap. Jadi bukan kegagalan total, tapi cukup menjadi catatan penting untuk camping berikutnya.

Setelah selesai makan kami sebenarnya tidak punya rencana kegiatan khusus. Rasanya ingin bersantai sambil scroll-scroll media sosial, tetapi karena tidak ada sinyal seluler dan WiFi Highland sedang tidak tersedia, akhirnya kami benar-benar hanya duduk santai sambil mengobrol. Ada sisi positifnya karena kami bisa menikmati suasana outdoor tanpa gangguan, tetapi di sisi lain kami merasa agak waswas karena khawatir jika ada informasi penting yang tidak bisa kami terima. Sinyal Telkomsel benar-benar hilang di area ini, sesekali muncul tetapi tidak bisa digunakan. Menurut staf, teknisi internet akan melakukan perbaikan pada sore hari, namun sampai kami checkout WiFi tetap tidak tersedia. Benar-benar terputus dari dunia luar.

Menjelang sore kami memutuskan untuk trekking sebentar menuju Curug Panjang yang lokasinya berada lebih atas dari campsite. Tidak lama berjalan kami tiba di sebuah pos yang berfungsi sebagai loket dan membayar tiket sebesar Rp51.000 untuk tiga orang. Setelah selesai membayar, tepat ketika kami hendak melanjutkan perjalanan, segerombolan monyet melintas di depan kami. Jumlahnya cukup banyak dan terlihat agresif, jadi kami menjaga jarak dan menunggu sampai mereka pergi terlebih dahulu.

Perjalanan menuju curug cukup menanjak namun tidak begitu berat. Di sepanjang jalur terdapat beberapa warung dan tampaknya area dekat curug juga digunakan sebagai lokasi camping. Setibanya di Curug Panjang, suasananya sudah cukup ramai oleh pengunjung. Kami menghabiskan waktu lumayan lama di sana karena anak saya sangat menikmati bermain air dan berendam.

Setelah puas di curug kami kembali turun menuju Highland. Kami sempat membeli beberapa snack di warung dekat campsite dan membeli cilok dari penjual yang mangkal di sana. Karena sudah sore dan istri serta anak sempat berendam, mereka pun mandi sesampainya di area campsite.

Saat sore mendekati malam, rencananya kami akan memasak Bakmi Godog, tetapi istri tiba-tiba menyadari bahwa bumbu yang sudah disiapkan malah tertinggal di rumah. Untungnya kami sempat membeli mi instan di rest area Ciawi sehingga bisa menjadi cadangan. Akhirnya menu makan malam kami hari itu adalah mi instan.

Ketika malam tiba, saya dan anak saya terpikir untuk membuat api unggun. Di lokasi kami berkemah tersedia sebuah fire pit yang terbuat dari susunan batu berbentuk lingkaran. Di dalamnya masih ada beberapa batang kayu yang mungkin merupakan sisa dari pengunjung sebelumnya. Untuk menambah bahan bakar, saya dan anak saya berkeliling mencari dahan, buah pinus, dan daun pinus kering. Untuk memulai api, saya menggunakan kertas bekas pembungkus alas camping yang saya nyalakan dengan bantuan kompor portabel. Awalnya sempat gagal, tetapi pada percobaan berikutnya api akhirnya menyala.

Sambil menikmati api unggun, kami mulai memasak kimchi jjigae. Suasana malam yang dingin berpadu dengan api unggun dan uap hangat dari masakan membuat suasana terasa sangat nyaman. Kami menyantap kimchi jjigae di dekat api unggun sambil bercengkrama, menjadi salah satu momen paling hangat selama camping kali ini.

Anak saya terlihat sangat senang. Rupanya menyalakan api unggun menjadi salah satu kegiatan camping favoritnya. Di camping berikutnya pun ia selalu menagih untuk menyalakan api unggun. Kami menikmati kegiatan ini cukup lama, dan setiap api mulai meredup saya dan anak saya segera mencari daun pinus kering untuk menjaga api tetap menyala.

Saat malam semakin larut dan tubuh kami mulai berbau asap, kami memutuskan untuk beristirahat. Api unggun kami padamkan dengan menyiramkan air. Kami tidur menggunakan sleeping bag masing-masing di atas matras angin yang tidak terlalu tebal, tetapi cukup baik dalam mengisolasi udara dingin. Tidurnya jauh lebih nyaman dan tidak kedinginan seperti camping pertama kami.

Di tengah malam terjadi sedikit insiden. Anak saya yang hari itu sebenarnya kurang fit karena hidung pilek dan mampet tiba-tiba terbangun. Ia merasa tidak nyaman dan sepertinya juga kelelahan sehingga akhirnya tantrum dan menangis. Saat saya mencoba menenangkannya, saya malah mendapat cakaran di pipi dan pada puncaknya ia menyuruh saya keluar tenda. Akhirnya malam itu saya tidak bisa melanjutkan tidur. Saya duduk di kursi lipat di depan tenda sambil bengong dan menahan dingin. Setelah anak saya tenang dan kembali tertidur, barulah saya bisa masuk lagi ke dalam tenda dan melanjutkan istirahat.

Ketika pagi tiba kami terbangun dan menghabiskan waktu sebentar untuk bersantai di depan tenda. Seperti biasa saya membuat kopi hangat dan menikmatinya sambil melihat suasana sekitar, rasanya benar-benar nikmat. Sama seperti pada camping sebelumnya, kami tidak berencana berlama-lama karena ingin segera turun agar tidak terjebak macet.

Setelah cukup bersantai kami mulai membereskan tenda dan semua perlengkapan. Satu per satu kami kemas kembali lalu bawa ke kendaraan. Untuk proses ini kami bolak-balik sendiri tanpa bantuan staf seperti saat kedatangan. Setelah semua beres kami menuju bangunan resepsionis untuk checkout dan melakukan pembayaran. Karena pembayaran elektronik tidak memungkinkan, kami membayar secara tunai. Biaya camping untuk tiga orang adalah Rp66.000 per orang, sehingga total HTM menjadi Rp198.000. Ada tambahan biaya PNBP sebesar 2,5 persen sehingga total yang kami bayarkan adalah Rp202.960. Kami menerima struk pembayaran dan ada hal yang cukup unik, di bagian footer tertulis bahwa struk tidak boleh diunggah ke mana pun tanpa izin dari pihak Highland Indonesia Group. Agak aneh juga, entah apa alasannya.

Begitulah pengalaman camping keluarga kecil kami untuk ‘episode’ kedua. Sama seperti sebelumnya, masih ada beberapa hal yang tidak berjalan mulus, namun semua itu tetap membuat kami semakin semangat untuk melanjutkan aktivitas camping berikutnya. Kami tentu akan mencoba camping ground lain di sekitar Bogor dan Sukabumi. Namun jika ditanya apakah kami akan kembali ke Highland Camp, jawabannya sudah pasti. Kami sangat menyukai tempat ini dan akan dengan senang hati kembali lagi jika ada kesempatan.

Diperbarui pada 12 Januari 2026
Label: