Situ Gunung: Akhirnya Kesampean Camping Mandiri Perdana Sekeluarga
Siapa sih yang tidak suka camping? Hampir semua orang tampaknya menikmati kegiatan luar ruang ini, termasuk saya. Meski begitu, saya bukan tipe yang merasa perlu melakukannya secara rutin. Sejak masa sekolah hingga sekarang, frekuensi saya berkemah bisa dibilang bisa dihitung dengan jari.
Kebanyakan pengalaman camping saya terjadi saat masih sekolah, biasanya dalam kegiatan pramuka. Waktu kuliah di Jogja, hanya sempat dua kali, sekali di Gunung Api Purba Nglanggeran dan sekali lagi di Pantai Baron. Setelah bekerja, kesempatan itu bahkan lebih langka, hanya sekali di Pancawati, Bogor, ketika ada kegiatan outbound dari kantor.
Ketika sudah berkeluarga, saya dan istri yang menikah pada masa pandemi COVID-19 sering menonton video tentang camping di YouTube. Dari situ muncul keinginan untuk mencoba camping berdua, mumpung belum ada momongan. Kami menonton berbagai video tentang camping ground di Bogor, dan Filemon Camp menjadi salah satu yang paling menarik perhatian kami.
Kami bahkan sempat mencatat daftar perlengkapan camping di aplikasi Notes sebagai bentuk persiapan. Namun sebelum rencana itu benar-benar terwujud, Tuhan justru menganugerahi kami anak pertama. Akhirnya, kegiatan camping yang sudah kami rencanakan pun tertunda untuk beberapa tahun ke depan.
Setelah tertunda beberapa tahun, saya dan istri mulai terpikir lagi untuk mewujudkan rencana camping mandiri kami. Alasannya sederhana, anak laki-laki kami yang kini berusia empat tahun tampak menunjukkan ketertarikan pada kegiatan berkemah setelah melihat teman sekompleknya memiliki tenda mainan di rumah. Kami pun merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mulai mengenalkannya pada petualangan dan keindahan alam secara langsung.
Persiapan Camping Mandiri Perdana

Setelah cukup yakin untuk melakukan camping perdana, saya dan istri mulai melakukan riset lokasi camping ground. Kami kembali menonton berbagai video YouTube yang me-review lokasi-lokasi di Bogor dan sekitarnya. Tujuan kami sederhana, mencari tempat yang bisa diakses dengan mobil perkotaan tanpa harus melewati jalan sempit, terjal, berbatu, atau berlumpur. Dengan kriteria itu, Filemon Camp yang dulu masuk wishlist terpaksa harus kami coret. Setelah menimbang beberapa opsi, kami memutuskan untuk berkemah di Situ Gunung, yang terletak di kaki Gunung Gede Pangrango, Sukabumi. Beberapa lokasi potensial lainnya tetap kami simpan di wishlist Google Maps, siapa tahu nanti bisa jadi tujuan camping berikutnya.
Untuk perlengkapan camping, kami sempat menimbang dua pilihan yakni menyewa atau membeli. Menyewa tentu lebih aman dari sisi budget, apalagi kalau ternyata kami tidak cocok dengan kegiatan berkemah mandiri dan tidak berencana melakukannya secara rutin. Tapi setelah dipikir-pikir, kami urung memilih opsi ini karena kebanyakan tempat penyewaan di Indonesia mensyaratkan kartu identitas sebagai jaminan, dan kami kurang nyaman dengan itu. Akhirnya, kami memutuskan untuk membeli perlengkapan sendiri, dengan catatan fokus pada produk yang harganya masih terjangkau.
Awalnya kami berencana membeli produk dari Eiger, karena merek ini sudah lama kami kenal dan percaya. Namun setelah melihat harga tenda dan perlengkapan lainnya, kami menemukan alternatif yang lebih ekonomis di Decathlon. Meskipun tidak bisa dibilang murah, Decathlon menawarkan banyak pilihan, dari yang lebih terjangkau dibanding Eiger hingga yang premium di luar anggaran kami. Keunggulan lainnya, mereka punya banyak toko offline, jadi kami bisa melihat langsung produk sebelum membeli.

Tanggal 5 September 2025 bertepatan dengan libur Maulid Nabi Muhammad yang jatuh pada hari Jumat, menjadikannya libur long weekend. Awalnya kami tidak punya rencana apa pun dan hanya menghabiskan hari di rumah. Namun di siang hari, tiba-tiba muncul ide spontan: bagaimana kalau akhir pekan ini kami gunakan untuk camping perdana? Tanpa banyak pikir, sore itu juga kami meluncur ke Decathlon di Pondok Indah. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah, dan kami tahu toko ini cukup besar dan seharusnya lengkap.
Target utama kami jelas, membeli tenda. Menurut kami yang masih newbie, tenda adalah perlengkapan esensial untuk bisa disebut berkemah. Sebelum berangkat, kami sudah menentukan pilihan yakni tenda Quechua MH100 kapasitas tiga orang. Kami bertekad tidak tergoda model lain, karena anggaran kami sangat ketat. Tapi tentu saja, godaan di toko sulit dihindari. Akhirnya kami menambah tiga kursi lipat ke dalam troli, barang yang sebenarnya tidak esensial tapi entah kenapa terasa “perlu.”

Setelah semua dibayar, kami masih sempat berkeliling dan terpikir membeli sleeping bag untuk anak kami. Sayangnya, si kecil menolak setelah melihat model sleeping bag di sana. Namun kami tetap merasa perlu membawa setidaknya satu sleeping bag, berjaga-jaga kalau udara di Situ Gunung terlalu dingin. Jadi kami mampir ke Eiger di Radio Dalam. Pilihannya memang tidak banyak, tapi kami akhirnya membeli satu sleeping bag model Lake Side yang dulu pernah masuk wishlist kami. Di sana, istri juga ikut membeli tas ringan untuk dirinya dan topi kecil untuk anak kami, dua barang non-esensial yang juga tidak kami rencanakan.

Sesampainya di rumah malam itu, kami mulai melakukan persiapan kecil sebelum hari keberangkatan. Semua perlengkapan baru dan barang yang sudah ada kami kumpulkan agar besok tinggal dibawa. Untuk alas tidur, kami memutuskan menggunakan alas busa lipat milik anak kami. Peralatan masak kami ambil dari dapur rumah, lalu kami kemas dalam kotak IKEA agar lebih rapi bersama bahan makanan. Saya juga sempat mencoba mendirikan tenda yang baru kami beli di halaman belakang rumah, hanya untuk memastikan bisa merakitnya tanpa kendala di lokasi nanti. Untungnya, tenda Quechua ini memang mudah dan cepat dipasang. Karena belum punya kompor camping, kami mampir sebentar ke Azko dekat rumah untuk membeli kompor portable dan tabung gas kecil. Dengan itu, seluruh perlengkapan mendadak kami akhirnya “lengkap”, siap untuk petualangan pertama keluarga kecil kami.
Hari-H Camping Perdana

Tibalah hari yang kami tunggu-tunggu, hari camping perdana keluarga kami. Pagi itu kami masih harus menyiapkan beberapa hal kecil yang terlewat, sehingga keberangkatan agak molor dari rencana awal. Begitu semua siap, kami langsung berangkat menuju jalan tol. Ada tiga ruas tol yang kami lewati, dengan Tol Bocimi sebagai jalur terakhir menuju Sukabumi. Kami keluar di gerbang tol Parungkuda, dan tak lama kemudian langsung disambut kemacetan yang cukup panjang. Untungnya, setelah mendekati kawasan Cisaat, lalu lintas mulai kembali lancar.
Dari alun-alun Cisaat, kami berbelok ke kiri menuju Kadudampit, jalur utama menuju kawasan wisata Situ Gunung. Jalanannya tidak sepenuhnya mulus, beberapa bagian sedang diperbaiki, tapi secara keseluruhan masih aman dan nyaman dilalui mobil biasa. Suasana mulai terasa sejuk, dan pemandangan di sepanjang jalan membuat rasa penat perjalanan sedikit terobati.
Sesampainya di gerbang utama Situ Gunung, kami disambut oleh petugas. Kami datang tanpa melakukan reservasi terlebih dahulu, dan hal itu sebenarnya cukup nekat mengingat ini adalah long weekend di mana tempat wisata biasanya penuh pengunjung. Dalam hati sempat muncul kekhawatiran, jangan-jangan camping ground sudah penuh dan rencana kami bisa gagal total.

Beruntung, petugas mengatakan masih tersedia tempat untuk camping. Kami hanya perlu membayar tiket masuk sekaligus biaya camping sebesar Rp72.000 per orang. Anak kami yang masih di bawah lima tahun tetap dihitung, jadi totalnya Rp216.000 untuk tiga orang. Setelah pembayaran selesai, kami menerima tiket dan diarahkan untuk melanjutkan perjalanan menuju area danau, bagian dari kompleks Situ Gunung yang digunakan sebagai lokasi camping.
Dari gerbang menuju danau jaraknya tidak terlalu jauh. Jalanannya berkelok dan sedikit naik turun, tapi masih cukup nyaman dilalui. Sesampainya di area dekat lokasi camping, kami sempat kesulitan mencari tempat parkir karena banyaknya pengunjung. Setelah berputar satu kali, akhirnya kami menemukan spot parkir yang cukup dekat dengan akses menuju danau, tepat di seberang sebuah warung. Dua orang petugas membantu kami memarkirkan kendaraan, sehingga prosesnya jadi lebih mudah.

Begitu mobil terparkir, kami meluangkan waktu sebentar untuk melihat-lihat area dan mencari lokasi terbaik untuk mendirikan tenda. Setelah berkeliling, kami memilih spot di sisi barat yang menurut kami memiliki pemandangan paling menarik. Lokasinya tidak jauh dari deretan pepohonan besar yang menyerupai hutan kecil, kemungkinan pohon damar. Tempatnya terasa teduh dan cukup lapang, cocok untuk kami. Sayangnya, ada satu kekurangan dari lokasi ini, yaitu jaraknya yang cukup jauh dari toilet dan kamar mandi. Di kawasan Situ Gunung, fasilitas tersebut hanya tersedia di satu titik di sisi timur, sementara spot yang kami pilih di sisi barat, tepat di area yang berlawanan.
Setelah menentukan lokasi, kami segera menurunkan semua perlengkapan dari mobil. Cuaca siang itu tampak gloomy, langit dipenuhi awan kelabu yang seolah memberi tanda bahwa hujan bisa turun kapan saja. Kami pun bergerak cepat. Begitu semua barang berhasil diturunkan, saya langsung mulai mendirikan tenda. Saat itulah kami baru sadar, alas busa lipat yang seharusnya kami bawa ternyata tertinggal di rumah.

Setelah tenda berhasil berdiri, kami beristirahat sejenak sambil menikmati suasana sekitar danau. Sesekali terlihat pengunjung meluncur di atas danau melalui tali flying fox, salah satu atraksi populer di Situ Gunung. Pemandangan itu membuat suasana semakin hidup. Sementara saya membereskan beberapa barang, istri mulai menyiapkan makan siang. Menu kali ini sederhana, sop dengan jamur salju dan chicken nugget buatan sendiri. Meski sederhana, rasanya terasa jauh lebih nikmat ketika disantap di alam terbuka dengan udara sejuk yang menyelimuti.

Usai makan, kami duduk santai di kursi lipat sambil menikmati suasana mendung yang menenangkan. Sesekali gerimis ringan turun, namun tak sampai menjadi hujan. Di sore hari, saya menyeduh kopi pahit untuk diri sendiri, sementara anak saya menikmati cokelat panas. Momen itu terasa hangat dan tenang, seolah waktu berjalan lebih lambat di tepi danau yang diselimuti kabut tipis.

Menjelang malam, kabut mulai turun semakin tebal dan udara terasa jauh lebih dingin. Kami tidak banyak beraktivitas, hanya duduk di kursi atau berdiam di dalam tenda sambil berbincang ringan. Untuk makan malam, kami membeli tiga bungkus Pop Mie dari warung di seberang dan menyeduhnya sendiri. Memang bukan pilihan paling sehat, tapi dengan persediaan bahan makanan yang kurang dan udara dingin di sekitar danau, kuah mi instan hangat terasa seperti pilihan paling tepat malam itu.
Untuk menerangi tenda, saya hanya membawa satu lampu camping Eiger Fireflies 1.0 yang sudah saya beli beberapa tahun lalu. Di area camping Situ Gunung tidak tersedia colokan listrik seperti di beberapa camping ground lain, tetapi pengunjung bisa meminta bantuan petugas untuk menarik kabel dari warung di seberang. Berdasarkan beberapa review di YouTube, biasanya biaya penarikan kabel sekitar Rp100.000, namun malam itu saya dikenakan Rp150.000. Petugas sempat menawarkan untuk menambahkan lampu ekstra, tapi hingga larut malam lampu tambahan yang dijanjikan tidak pernah datang. Ya sudahlah, yang penting kami tetap bisa mengisi daya smartphone dan perangkat lain. Untungnya, sinyal Telkomsel cukup kuat di area ini, jadi kami masih bisa terhubung tanpa kendala selama berkemah.

Malam semakin larut, dan kami pun berusaha untuk tidur agar bisa beristirahat setelah perjalanan panjang. Sayangnya, karena lupa membawa alas busa, kami tidur langsung di atas lantai tenda yang menempel pada tanah dan rumput yang lembap. Rasa dingin dari bawah terasa menusuk, membuat kami sulit untuk benar-benar terlelap. Sebagai solusi darurat, kami membentangkan sleeping bag dan menggunakannya sebagai alas tambahan agar sedikit lebih hangat.
Belum sempat nyenyak, gangguan lain datang. Beberapa pengunjung tampak masih lalu lalang di sekitar area, mungkin baru tiba dan sedang mencari tempat untuk mendirikan tenda. Suara langkah kaki dan obrolan mereka membuat suasana agak ramai. Menjelang tengah malam, sekelompok pengunjung yang berkemah tak jauh dari kami malah bernyanyi keras-keras. Alih-alih mendapatkan ketenangan yang kami bayangkan dari camping di alam, malam itu justru diwarnai suara musik dan tawa keras yang terus terdengar hingga larut.

Akhirnya kami bisa beristirahat hingga pagi menjelang. Saat matahari mulai muncul di balik pepohonan, udara terasa segar dan menenangkan. Pagi itu kami tidak banyak beraktivitas, hanya menikmati secangkir kopi sambil bercanda dengan anak, ditemani suara alam yang lembut. Sesekali kami mengambil foto dan video untuk kenang-kenangan. Kami tidak mencoba aktivitas lain seperti trekking atau wahana yang tersedia di Situ Gunung. Rasanya tubuh masih lelah, dan kami juga tidak ingin pulang terlalu sore untuk menghindari macet di jalur wisata saat long weekend.
Tak lama kemudian, kami mulai berkemas dan menaikkan semua perlengkapan kembali ke mobil. Saat hendak keluar dari area danau, petugas parkir membantu kami mengarahkan kendaraan untuk keluar. Di situ kami baru tahu bahwa ada biaya parkir tambahan sebesar Rp20.000. Ternyata tiket Rp72.000 per orang yang kami bayarkan sebelumnya belum termasuk biaya parkir kendaraan. Agak menyebalkan juga, apalagi dengan harga tiket yang cukup tinggi dan fasilitas yang masih terbatas.
Begitulah pengalaman perdana kami camping mandiri. Tidak sepenuhnya berjalan mulus, tapi cukup memberi banyak pelajaran. Dari perjalanan ini kami belajar bahwa camping tidak sesederhana menyiapkan tenda dan perlengkapan, ada banyak hal kecil yang perlu diperhatikan agar pengalaman berikutnya lebih nyaman. Kami pun sepakat menjadikan kegiatan seperti ini sebagai aktivitas rutin keluarga. Mungkin tidak sering, tapi setidaknya sekali sebulan, agar anak kami semakin terbiasa menikmati alam dan belajar hal-hal baru di luar rumah.