Franz Wilhelm Junghuhn dan Jejaknya di Srengat

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
14 Januari 2025
Peta Kawedanan Srengat
Distrikt Srengat Tahun 1855. Peta: Franz Wilhelm Junghuhn

Franz Wilhelm Junghuhn (1809–1864) adalah seorang naturalis, geografer, dan dokter berkebangsaan Jerman-Belanda yang terkenal karena penjelajahannya di Pulau Jawa pada abad ke-19. Junghuhn mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk mempelajari keragaman lanskap, flora, dan geologi pulau ini. Pengamatan dan ilustrasinya yang detail masih menjadi salah satu catatan paling komprehensif tentang sejarah alam Jawa.

Junghuhn tiba di Jawa pada awal tahun 1830-an sebagai dokter di militer Hindia Belanda. Namun, hasratnya untuk eksplorasi mendorongnya untuk melakukan perjalanan ilmiah ke berbagai pelosok pulau ini. Selama beberapa dekade, ia menjelajahi gunung, gunung berapi, hutan, hingga desa-desa, mendokumentasikan penemuannya dalam tulisan dan peta yang rinci.

Penjelajahan tersebut menghasilkan beberapa buku penting, termasuk Java, Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi, en Inwendige Bouw (Jawa, Bentuknya, Flora-nya, dan Struktur Dalamnya), sebuah karya luar biasa yang menunjukkan pemahamannya yang mendalam tentang geografi dan keanekaragaman hayati Jawa.

Saya menemukan salinan buku ini di archive.org dan mencoba membacanya menggunakan fitur penerjemah di macOS serta bantuan Google Translate. Salah satu bab yang menarik perhatian saya adalah “Van Cheribon Tot Aan Blitar” (Dari Cirebon ke Blitar). Dalam bab ini, Junghuhn menuliskan perjalanannya menuju Gunung Kelud pada tahun 1844.

Hal yang membuat saya terkejut adalah, dalam rute yang ia tempuh, Junghuhn menuliskan “distrikt Srêngat,” yang tak lain adalah kampung halaman saya! Pada masa itu, Srengat merupakan wilayah administrasi setingkat distrikt di bawah regentschap, yang dipimpin oleh seorang wedana. Distrikt Srengat mencakup beberapa onderdistrikt (kini disebut kecamatan), yaitu Srengat, Ponggok, dan Udanawu.

Catatan Perjalanan Junghuhn Melintas Srengat

Pada halaman 637 , Junghuhn mencatat perjalanannya meninggalkan Kediri menuju selatan dengan menyusuri aliran Sungai Brantas. Setelah melewati Poststation Podjok, ia berbelok ke timur mengikuti arah sungai, yang kemungkinan adalah wilayah Ngantru, Tulungagung. Perlu diketahui, poststation pada masa itu adalah tempat transit untuk beristirahat atau menukar kuda baru.

Dari Ngantru, Junghuhn mencatat perjalanan yang mulai sedikit menanjak meski tidak terlalu terjal. Sekitar pukul 10.45 pagi, ia tiba di Poststation Mendjangan, yang ia sebut berada di Distrikt Srengat. Namun, toponimi Mendjangan tampaknya merujuk pada Dusun Mayangan, bagian dari Ngantru yang berbatasan langsung dengan Distrikt Srengat.

Di pos ini, ia berhenti selama satu jam karena seharusnya menukar kuda di Tulungagung, tetapi tidak ada kuda yang cukup bugar saat itu. Sambil menunggu di bawah terik matahari, ia memanfaatkan waktu untuk mempelajari tanaman di sekitarnya.

Setelah beristirahat, Junghuhn melanjutkan perjalanan perlahan dengan kuda yang sama selama 1,5 jam. Sekitar pukul 1, ia tiba di Pos Kolomajang, yang kemungkinan merujuk pada Desa Kolomayan. Ia mencatat kondisi alam di sekitar tempat ini, termasuk kebun kopi yang tersebar di pinggir jalan, beberapa area yang ditumbuhi tanaman Ploso (Butea frondosa), dan mayoritas wilayah yang dipenuhi rumput gelagah. Ia juga menjumpai hutan lebat di beberapa bagian.

Junghuhn memberikan perhatian khusus pada struktur tanah di kawasan ini. Ia mencatat adanya pasir lava lembut berwarna abu-abu serta tanah bercampur lapili berongga, yang ia duga berasal dari erupsi Gunung Kelud. Suhu pasir tercatat 42,8° C (pada kedalaman 3 inci) dan 52,2° C di permukaan yang terkena sinar matahari, meski langit tidak sepenuhnya cerah dan angin sejuk berhembus.

Di Kalomajang, Junghuhn harus menunggu kuda selama satu jam, yang baru tiba sekitar pukul 2 siang untuk membawanya keluar dari gurun pasir panas ini.

Perjalanan Junghuhn berlanjut melewati tepian sebuah bukit memanjang yang ia sebut Gunung Pekêt, yang mengacu pada Gunung Pegat. Ia menduga bukit ini terbentuk dari lava dan material vulkanik Gunung Kelud. Bukit tersebut ditutupi hutan rendah serta kebun kopi. Di sepanjang jalan, pohon kopi sering diapit oleh pohon Dadap atau pohon-pohon tinggi dari hutan alami.

Dalam “hutan” kopi ini, Junghuhn dengan mudah menjelajahi berbagai jenis tumbuhan, termasuk pohon kayu sonokembang yang cukup umum ditemukan di sana. Pohon-pohon ditata rapi dengan jarak yang cukup, tanpa semak-semak yang menghalangi, sehingga memudahkan pengamatannya. Ia menghabiskan waktu cukup lama mengenali ciri-ciri utama dari jenis-jenis tumbuhan di area ini karena tidak memiliki waktu atau cukup tempat untuk mengambil dan menyimpan sampel.

Sekitar pukul 2.30 siang, Junghuhn tiba di Poststation Jatilengger, menandai akhir perjalanannya di Distrikt Srengat. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan ke Blitar.

Diperbarui pada 12 Januari 2026