Barukuping: Dhanyang Srengat yang Terlupakan

Kepercayaan terhadap dunia perhantuan telah lama mengakar di Nusantara, terbukti dari keberadaan berbagai jenis hantu yang tercatat dalam karya sastra hingga terpahat di relief candi. Dalam unggahan videonya, Asisi Channel menyebut sejumlah karya tulis yang membahas dunia perhantuan Jawa Kuno, seperti Kitab Sutasoma, Nawaruci, Serat Calonarang, Kidung Sudamala, dan Kakawin Sena.
Pada era kerajaan Islam, hantu-hantu Jawa turut tercatat dalam karya sastra, salah satunya Suluk Plencung. Menurut Historia, tembang ini digubah pada 10 Dulkidah 1719 tarikh Jawa (19 Juli 1791). Suluk Plencung, yang terdiri dari 23 bait, memuat nama-nama dhanyang, roh penunggu yang melindungi berbagai daerah di Jawa, Madura, dan Bali. Tembang ini bertujuan membantu pelancong mengenali penguasa gaib di tiap lokasi yang dilewati, karena mengingat nama mereka diyakini dapat menangkal bahaya, menolak bala, dan menyembuhkan penyakit akibat guna-guna.
Pada bait ke-4 tertulis:
“Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggiling wesi,
Macan guguh ing Grobogan, Kaljohar Singasari,
Srengat si Barukuping, Balitar si Kalakatung,
Buta Kroda ing Rawa, Kalangbret si Sekargambir,
Carub awor kang rumeksa ing Lamongan.”
Dari sekian banyak lokasi yang disebut, ternyata Srengat juga muncul, bersamaan dengan Blitar. Bait ini mengungkap bahwa dhanyang yang menguasai wilayah Srengat adalah makhluk halus bernama Barukuping.
Jujur, saya sendiri baru pertama kali mendengar nama Barukuping. Selama hidup di Srengat, tak pernah sekalipun keluarga, teman, atau orang sekitar saya menyebut namanya. Mungkin karena kisahnya sudah lama tak diceritakan, hingga perlahan menghilang dari ingatan generasi sekarang. Bahkan istilah dhanyang pun kini jarang terdengar.
“Mencari” Barukuping
Rasa penasaran pun muncul, siapa sebenarnya Barukuping? Namun, ke mana saya harus mencari jawabannya? Saya mencoba Google dengan kata kunci “Barukuping Srengat,” tetapi tak menemukan jawaban yang saya butuhkan. Hasil pencarian hanya mengarah kembali ke berbagai halaman tentang Suluk Plencung.
Sebagai upaya terakhir, saya mencoba kata kunci broad “Barukuping.” Hasil pencarian merujuk kepada pusaka berupa tombak, mayoritas berupa listing jualan di situs e-commerce. Meski begitu, jika ditelusuri lebih dalam, ada benang merah yang mengarah ke sejarah dan cerita rakyat. Tombak Barukuping ini ternyata berkaitan dengan pusaka sakti milik Ki Ageng Mangir Wanabaya, seorang tokoh yang hidup pada era Mataram Islam. Ia dikenal sebagai musuh sekaligus menantu Panembahan Senapati, pendiri kerajaan tersebut.
Dalam buku Kajian Naskah Babad Bedhahing Mangir terbitan Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta, dikisahkan bahwa asal-usul pusaka ini berasal dari lidah seekor ular raksasa, anak hasil hubungan seorang gadis dengan seorang pendeta atau guru. Buku yang sama juga menyebut bahwa Barukuping bersinonim dengan Baruklinting. Dalam cerita rakyat Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Baruklinting dikenal sebagai anak Ki Sela Gondang dan Endang Sawitri yang dikutuk menjadi naga.
Wujud Barukuping
Dari dua kisah di atas, dapat disimpulkan bahwa dhanyang Srengat, Barukuping, kemungkinan berwujud naga atau ular raksasa. Sebagai makhluk gaib pelindung wilayah dan penduduk setempat, ia dihormati melalui persembahan sesajen atau ritual tertentu sebagai bentuk timbal balik. Seperti dhanyang pada umumnya, Barukuping kemungkinan berdiam di pohon besar atau tempat-tempat tua di Srengat, seperti Mleri atau Gunung Pegat.
Meskipun kepercayaan terhadap dhanyang seperti Barukuping telah memudar seiring kemajuan zaman, bukan berarti kisahnya harus dilupakan. Sebagai bagian dari warisan budaya, legenda ini patut dijaga dan diteruskan kepada anak-cucu kita, agar tetap hidup dalam ingatan dan tidak lenyap ditelan waktu.