Srengat dalam Angka: Pertengahan Abad ke-19

Di era digital ini, memperoleh data statistik tentang Kecamatan Srengat tidak sulit. Kita hanya perlu mengakses laman resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Blitar, lalu mendapatkan publikasi lengkap terkait Srengat. Memang, publikasi ini memiliki ciri khas dokumen pemerintah: desain mencolok, warna ngejreng, serta foto pejabat segede Gaban. Meski demikian, publikasi ini cukup lengkap menyajikan data terbaru mengenai kondisi geografis, kependudukan, hingga sektor ekonomi.
Namun, publikasi resmi dari BPS hanya mencakup data dalam beberapa tahun terakhir saja. Mencari data statistik masa lampau, khususnya dari era kolonial Hindia Belanda ratusan tahun lalu, tentu jauh lebih sulit.
Salah satu solusi untuk mengakses data lama adalah dengan memanfaatkan dokumen resmi pemerintah kolonial yang banyak tersedia di situs Delpher. Khusus untuk mencari informasi tentang Srengat pada pertengahan abad ke-19, diperlukan pendekatan khusus agar hasil pencariannya lebih akurat. Hal ini karena pada masa kolonial Belanda, nama “Srengat” juga sering dieja sebagai “Sringat”. Jadi, pencarian yang optimal sebaiknya menggunakan kedua versi ejaan tersebut.
Data statistik Srengat pada masa kolonial dapat ditemukan dalam dokumen “Tijdschrift voor Neerland’s Indië jrg 9, 1847” yang tersedia di Delpher. Edisi berikutnya tahun 1850 juga mencantumkan data statistik, namun isinya mengacu pada edisi sebelumnya di tahun 1847.
Saat itu, Srengat bersama Blitar masih berstatus Wedonoschappen atau Kawedanan, status yang turun setelah tahun 1833 dari posisi sebelumnya sebagai Onder-regentschap dengan bupati terakhir bernama Raden Ngabei Mertokusumo. Kawedanan ini terdiri atas dua distrikt, yakni Blitar dan Srengat.

Dalam dokumen tersebut, luas wilayah Srengat tercatat sekitar 125 vierkante paal atau kurang lebih 285 kilometer persegi. Wilayah tersebut jauh lebih luas dibandingkan kondisi saat ini yang hanya sekitar 54 kilometer persegi. Terdapat 895 rumah tangga dengan mayoritas penduduknya adalah suku Jawa, dengan total 4.575 jiwa yang terdiri dari 1.178 laki-laki dewasa, 1.417 perempuan dewasa, 986 anak laki-laki, dan 944 anak perempuan. Selain itu, di Kawedanan Srengat dan Blitar tercatat ada 2 warga Eropa dan 62 warga etnis Tionghoa, namun tidak disebutkan secara rinci apakah mereka menetap di wilayah Distrikt Blitar atau Distrikt Srengat.
Dengan luas dan jumlah penduduk tersebut, kepadatan penduduk Srengat kala itu sekitar 37 inwoners per vierkante paal atau setara dengan 16 jiwa per kilometer persegi. Angka ini tentu jauh lebih rendah dibandingkan data tahun 2023, yang mencapai 1.283 jiwa per kilometer persegi.