Sejarah Berdirinya SMP Negeri 1 Srengat

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
25 November 2025

Ketertarikan saya terhadap sejarah kampung halaman, membawa saya bertanya tentang asal-usul sekolah-sekolah yang dulu pernah menjadi tempat belajar. Mulai dari SD, SMP, hingga SMA yang kebetulan semuanya merupakan sekolah negeri dengan nomor urut 1 di Kecamatan Srengat.

Saya sadar untuk menemukan informasi sejarah sekolah-sekolah itu secara online tidaklah mudah. SD Negeri Srengat 1 tampaknya tidak memiliki situs resmi, sementara laman web SMP dan SMA Negeri 1 Srengat yang dulu saya ingat pernah ada kini sudah tidak aktif, mungkin karena tidak lagi di-maintain. Saat tulisan ini diunggah, hanya SMA Negeri 1 Srengat yang memiliki laman Wikipedia, meskipun section “Sejarah” di sana hanya memuat ringkasan yang sangat singkat.

Beruntung, ketika melakukan pencarian di Google, saya menemukan sebuah Blogspot yang tampaknya dikelola oleh alumni SMP Negeri 1 Srengat angkatan 1983. Blog itu sendiri sudah lama tidak diperbarui, tetapi masih menyimpan sebuah artikel mengenai sejarah berdirinya sekolah menengah tersebut. Saya tidak mencantumkan tautannya di sini karena kolom komentar artikel terdapat sebuah spam ke situs judol yang tidak dihapus oleh admin blog.

Artikel yang dipublikasikan pada 30 Mei 2013 itu ternyata mengunggah ulang tulisan Bapak Djamzuri Azmy, tertanggal 18 Agustus 2010. Pada bagian akhir tertulis bahwa beliau adalah alumni sekaligus mantan guru SMPN 1 Srengat. Saya pribadi juga pernah diajar oleh beliau untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia ketika saya duduk di kelas 2.

Sistem Pendidikan di Srengat Pada Masa Penjajahan

Dalam tulisannya, Bapak Djamzuri membuka dengan gambaran mengenai kondisi pendidikan di Kawedanan Srengat pada masa kolonial Hindia Belanda. Saat itu hanya ada volkschool atau sekolah rakyat. Pada periode ini, sekolah rakyat terbagi menjadi dua tingkatan yaitu sekolah desa dengan masa belajar tiga tahun dan sekolah ongko 2 dengan masa belajar dua tahun. Memasuki masa pendudukan Jepang, kedua jenis sekolah tersebut dilebur menjadi satu sistem yang disebut sekolah rakyat (kokumin gakkō) dengan masa pendidikan enam tahun.

Terpisah, dalam literatur yang saya temukan berjudul Orang Indonesia jang Terkemoeka di Djawa, terdapat sosok bernama Raden Herm. Tamsoer Tjokrosiswojo. Pada tahun 2589 kalender Jepang atau 1929 Masehi, ia disebut sebagai kepala sekolah rakyat sekaligus pembina latihan guru untuk sekolah pertama di Srengat. Jika benar demikian, apakah tahun 1929 ini dapat dianggap sebagai penanda awal keberadaan sekolah rakyat di Srengat?

Seingat saya, ibu saya yang juga seorang guru pernah menjelaskan bahwa istilah “sekolah rakyat” atau “SR” merupakan penyebutan lama untuk sekolah dasar (SD) pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan. Apakah sekolah rakyat yang disebut dalam tulisan ini merupakan cikal bakal SD Negeri 1 Srengat?

Lahirnya Sekolah Menengah Pertama di Srengat

Pasca kemerdekaan, sistem pendidikan enam tahun pada tingkat sekolah rakyat (SR) yang diwarisi dari masa pendudukan Jepang masih dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Hal yang sama juga berlaku di Srengat. Namun hingga memasuki dekade 1960-an, Kawedanan Srengat belum memiliki sekolah menengah pertama sebagai jenjang lanjutan setelah SR. Para lulusan SR yang ingin melanjutkan pendidikan harus pergi ke kota, sehingga keberadaan sekolah menengah di Srengat sangat dibutuhkan.

Situasi tersebut membuat para pemimpin dan tokoh masyarakat Kawedanan Srengat merasa perlu mengambil langkah nyata. Wedono Srengat pada masa itu menginisiasi sebuah musyawarah yang mempertemukan berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat. Dari kalangan Pangreh Praja hadir Bapak Sukirman selaku Wedono Srengat. Dilihat dari garis waktu, beliau kemungkinan merupakan pejabat wedono terakhir karena tingkat pemerintahan kawedanan dihapus pada 1963 oleh Presiden Sukarno. Turut hadir pula para asisten wedono dari Srengat, Ponggok, dan Udanawu. Jabatan asisten wedono pada masa kini setara dengan camat setelah struktur kawedanan tidak lagi digunakan.

Musyawarah tersebut juga dihadiri oleh Bapak Tjipto Hartono selaku Komandan Distrik Kepolisian Srengat, Bapak Talbi sebagai komandan CODM Srengat, para kepala desa dari seluruh wilayah kawedanan, serta beberapa tokoh masyarakat. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan sekolah menengah di Kawedanan Srengat. Tanah yang dipilih untuk pembangunan sekolah merupakan tanah milik H. Ma’shum karena letaknya dianggap strategis.

Untuk pendanaan pembangunan gedung, masyarakat Kawedanan Srengat menyepakati sistem gotong royong. Setiap warga menyumbangkan sebutir kelapa dari setiap pohon kelapa produktif yang mereka miliki. Swadaya inilah yang menjadi dasar finansial awal bagi pembangunan sekolah tersebut.

SK Operasional SMPN 1 Srengat Tahun 1960
SK Operasional SMPN 1 Srengat Tahun 1960

Akhirnya, pada hari Kamis Legi, 18 Agustus 1960, SMP Negeri 1 Srengat resmi berdiri. Operasional sekolah ini berdasar pada SK 3413/PERW/A/1960 tertanggal 1 Agustus 1960 yang dikeluarkan oleh Kepala Perwakilan Departemen PP&K Daerah Jawa Timur. Pada masa awal pendiriannya, kompleks sekolah masih sangat sederhana. Di bagian paling selatan terdapat satu ruang tata usaha yang menjadi pusat administrasi. Tepat di sebelah utaranya berdiri ruang kepala sekolah sebagai ruang kerja pimpinan sekolah.

Di sebelah utara ruang kepala sekolah terdapat sepuluh ruang kelas. Tujuh di antaranya menghadap ke arah barat, sedangkan tiga ruang kelas lainnya menghadap ke arah selatan. Di belakang deretan ruang kelas yang menghadap ke barat tersedia tempat khusus untuk menaruh sepeda para siswa. Di utara area parkir sepeda terdapat sebuah sumur. Fasilitas lain yang sudah tersedia meliputi satu kamar mandi, empat kamar kecil, satu ruang ganti pakaian, serta sebuah gudang yang berdiri di sisi timur ruang ganti tersebut.

Sedangkan dari sisi kelembagaan, SMP Negeri 1 Srengat pada awal pendiriannya merupakan hasil peleburan dari dua sekolah guru B (SGB) di Blitar. Formasi awal sekolah ini terdiri dari tujuh orang yang terdiri dari:

SGB IV Blitar

  • Bapak TB Tjipta Harsaja, menjabat sebagai Kepala Sekolah
  • Bapak Soetarto
  • Bapak Soewandi
  • Bapak Toekiran
  • Bapak Warono, bertugas sebagai pesuruh

SGB I Blitar

  • Bapak Soepardjo
  • Bapak Soedjoko

Diperbarui pada 5 Januari 2026