Benarkah Depok Sebuah Singkatan? Menelusuri Mitos di Balik Nama Depok

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
8 Oktober 2026

Ada satu cerita mengenai asal-usul nama Depok yang mungkin sudah berkali-kali kita dengar. Konon, DEPOK merupakan singkatan dari De Eerste Protestante Organisatie van Kristenen, yang kurang lebih berarti “Organisasi Protestan Pertama Orang-orang Kristen”. Cerita ini terdengar meyakinkan. Terlebih sejarah Depok memang tidak dapat dilepaskan dari Cornelis Chastelein dan komunitas Kristen yang kemudian berkembang di tanah miliknya.

Mitos Nama Depok yang Diamplifikasi Media Besar
Mitos Nama Depok yang Diamplifikasi Media Besar. Sumber: Beautynesia.

Ironisnya, cerita yang secara historis bermasalah ini tidak hanya beredar dari mulut ke mulut atau melalui unggahan media sosial. Media dengan jangkauan luas seperti Good News From Indonesia (GNFI) turut mengamplifikasinya melalui konten video mengenai asal-usul nama Depok. Hal serupa juga ditemukan pada Beautynesia, media yang berada dalam jaringan detikcom, melalui artikel berjudul “Nama Depok Ternyata Singkatan dari Bahasa Belanda, Sudah Tahu Belum?”. Bahkan dari judulnya saja, artikel tersebut sudah menyajikan klaim singkatan sebagai sebuah fakta, bukan sebagai cerita populer yang masih perlu diuji kebenarannya. Ketika informasi semacam ini disebarluaskan oleh media dengan audiens besar, mitos sejarah berpotensi memperoleh legitimasi dan semakin sulit dibedakan dari fakta, terlebih jika tidak disertai pemeriksaan terhadap sumber-sumber sejarah yang kredibel.

Yang lebih disayangkan, situs resmi Pemerintah Kota Depok pun masih memuat cerita mengenai kepanjangan DEPOK dalam laman sejarah kotanya, tanpa memberikan penegasan yang memadai bahwa penjelasan tersebut bertentangan dengan kronologi penggunaan nama Depok. Padahal, sebagai sumber informasi resmi pemerintah daerah, laman tersebut semestinya dapat membantu masyarakat membedakan antara fakta sejarah, tradisi lisan, dan penafsiran populer yang belum terbukti. Alih-alih meluruskan kesalahpahaman, penyajian yang ambigu justru berisiko melanggengkan mitos tersebut.

Gereja dan Rumah Pendeta Komunitas Kristen di Depok, 1847. Sumber: Universitas Leiden.

Masalahnya, jika diperiksa secara kronologis, penjelasan tersebut sulit dipertahankan. Nama Depok ternyata sudah digunakan sebagai nama tempat sebelum komunitas Kristen Chastelein berkembang di sana.

Dengan demikian, alih-alih menjadi asal-usul nama Depok, kepanjangan tersebut lebih tepat dipandang sebagai sebuah backronym atau kepanjangan yang dibuat belakangan untuk menyesuaikan sebuah kata atau nama yang sebenarnya telah lebih dahulu ada.

Depok Sudah Bernama Depok pada 1696

Wasiat Cornelis Chastelein
Wasiat Cornelis Chastelein. Sumber: depok.nl.

Salah satu bukti terpenting justru dapat ditemukan dalam dokumen yang berhubungan langsung dengan Cornelis Chastelein. Dalam transkripsi testament dan codicil Cornelis Chastelein yang disusun Jan-Karel Kwisthout, Chastelein menjelaskan beberapa bidang tanah miliknya. Salah satunya disebut:

het tweede genaamt Depok

atau kurang lebih berarti “yang kedua bernama Depok”. Pada bagian yang sama, Chastelein menjelaskan bahwa bidang tanah tersebut diperolehnya berdasarkan coopbrief atau surat pembelian bertanggal 18 Mei 1696. Ia menulis:

het tweede genaamt Depok … soo als hetselve mij … op den 18 May 1696 volgens coopbrief is opgedragen.

Dokumen tersebut penting karena menunjukkan bahwa Depok diperlakukan sebagai nama sebuah bidang tanah, bukan sebagai singkatan yang baru diciptakan kemudian.

Artinya, kita perlu membalik logika cerita yang selama ini populer. Bukan Chastelein datang ke sebuah tempat, membentuk organisasi bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen, kemudian menamai tempat tersebut DEPOK berdasarkan huruf awal organisasi itu. Justru ketika Chastelein memperoleh tanah tersebut pada akhir abad ke-17, tanah itu sudah disebut Depok.

Boy Loen, Koordinator Bidang Sejarah Yayasan Lembaga Conelis Chastelein (YLCC)
Boy Loen, Koordinator Bidang Sejarah Yayasan Lembaga Conelis Chastelein (YLCC). Sumber: Kumparan.

Kesimpulan serupa disampaikan oleh Boy Loen, Ketua Bidang Sejarah Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), yang juga merupakan keturunan komunitas Depok Lama. Dalam video wawancara yang dipublikasikan Depok24jam, Boy menjelaskan bahwa ketika Chastelein membeli tanah tersebut pada abad ke-17, nama Depok sudah tercantum dalam dokumen pembelian sebagai Het Land Depok atau Tanah Depok. Dengan demikian, menurutnya, nama Depok bukanlah hasil penamaan Chastelein ataupun singkatan sebuah organisasi Kristen.

Bahkan Singkatannya Bermasalah

Ada persoalan lain yang menarik, yakni ketidakkonsistenan penulisan kepanjangan DEPOK. Dalam berbagai sumber, terdapat dua versi yang beredar, yaitu De Eerste Protestante Organisatie van Kristenen dan De Eerste Protestante Organisatie van Christenen. Perbedaannya terletak pada kata terakhir, yakni Kristenen dan Christenen. Padahal, dalam bahasa Belanda, ejaan yang benar adalah Christenen, bukan Kristenen. Jika mengikuti ejaan bahasa Belanda yang benar, huruf awal dari kepanjangan tersebut justru membentuk DEPOC, bukan DEPOK. Ketidakkonsistenan ini menimbulkan pertanyaan tersendiri mengenai keaslian kepanjangan tersebut, sekaligus memperkuat dugaan bahwa singkatan itu dibuat belakangan untuk menyesuaikan nama Depok yang sudah lebih dahulu ada.

Boy Loen juga menyoroti kejanggalan tersebut. Dalam wawancara yang dimuat Kumparan, ia menjelaskan bahwa dalam bahasa Belanda kata Christenen ditulis menggunakan huruf C, bukan K. Karena itu, apabila benar merupakan akronim dari bahasa Belanda, bentuk yang dihasilkan semestinya DEPOC, bukan DEPOK.

Penelitian linguistik yang sama juga mencatat adanya pendapat lain bahwa nama Depok berasal dari istilah Sunda yang merujuk kepada tempat pertapaan atau tempat tinggal seseorang yang menyendiri, dan bahwa istilah tersebut telah digunakan masyarakat setempat sebelum masa Chastelein.

Kapan Cerita Singkatan Itu Muncul?

Pertanyaan yang justru lebih menarik adalah: jika nama Depok bukan berasal dari singkatan tersebut, kapan cerita DEPOK sebagai akronim mulai muncul? Di sini sumber yang tersedia belum memberikan jawaban yang sepenuhnya seragam.

Sejarawan JJ Rizal disebut pernah menempatkan kemunculan cerita singkatan tersebut sekitar dekade 1970-an. Keterangan ini antara lain dimuat dalam artikel Jayakarta News mengenai sejarah Depok.

Menariknya, Boy Loen memberikan penjelasan yang lebih spesifik mengenai latar belakang kemunculan singkatan tersebut. Menurut Boy, kepanjangan DEPOK justru dibuat oleh orang-orang Depok yang bermukim di Belanda sebagai bentuk kerinduan terhadap kampung halaman mereka. Penjelasan ini disampaikannya dalam video wawancara yang dipublikasikan Depok24jam.

Dalam wawancara yang dimuat Kumparan, Boy mengaitkan kemunculan akronim tersebut dengan situasi politik Indonesia dan Belanda pada awal 1960-an, khususnya masa konflik Irian Barat atau Trikora. Ketika hubungan kedua negara memburuk, sebagian orang Depok yang telah menetap di Belanda tidak dapat kembali mengunjungi kampung halaman mereka seperti sebelumnya. Dalam sebuah pertemuan atau reuni komunitas Depok di Belanda, mereka kemudian membuat kepanjangan DEPOK sebagai ungkapan kerinduan terhadap tanah asalnya.

Keterangan serupa juga muncul dalam catatan kunjungan sejarah bersama Boy Loen. Dalam catatan tersebut, Boy menjelaskan bahwa sebelum memburuknya hubungan Indonesia dan Belanda, sejumlah kerabatnya yang tinggal di Belanda terbiasa pulang ke Depok untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Ketika perjalanan tersebut tidak lagi memungkinkan, mereka tetap menjaga hubungan dengan kampung halaman melalui reuni komunitas di Belanda. Dalam suasana itulah, menurut Boy, kepanjangan DEPOK dibuat sebagai ekspresi kerinduan.

Penjelasan Boy ini menarik karena memberikan konteks sosial yang sebelumnya tidak terlihat dalam perdebatan mengenai akronim Depok. Jika benar, kepanjangan tersebut pada mulanya bukan dimaksudkan sebagai klaim etimologis, melainkan sebagai ungkapan nostalgia komunitas diaspora Depok terhadap kampung halaman mereka. Namun dalam perkembangannya, kepanjangan yang semula merupakan ekspresi kerinduan itu tampaknya mulai diperlakukan sebagai penjelasan historis mengenai asal-usul nama Depok.

Lalu, bagaimana dengan perbedaan penanggalan antara awal 1960-an menurut Boy Loen dan 1970-an yang diatribusikan kepada JJ Rizal? Untuk sementara, jawabannya adalah: belum dapat dipastikan kapan persis kepanjangan tersebut pertama kali diciptakan. Yang pasti, kedua penjelasan tersebut memiliki satu kesamaan mendasar: semuanya menempatkan kemunculan kepanjangan DEPOK jauh setelah nama Depok sendiri digunakan sebagai toponim.

Sebuah Backronym

Dalam linguistik dikenal istilah backronym, yaitu kepanjangan yang dibuat belakangan untuk sebuah kata atau nama yang sebelumnya tidak dibentuk dari singkatan tersebut.

Polanya kurang lebih seperti ini. Sebuah nama telah digunakan selama puluhan atau bahkan ratusan tahun. Belakangan orang menemukan rangkaian kata yang huruf awalnya dapat membentuk nama tersebut. Karena terdengar cocok dan memiliki cerita yang menarik, kepanjangan baru itu kemudian diceritakan berulang-ulang sampai akhirnya dianggap sebagai asal-usul sebenarnya.

Cerita DEPOK tampaknya mengikuti pola tersebut. Kita mempunyai toponim Depok yang sudah tercatat pada akhir abad ke-17. Kita juga mempunyai komunitas Kristen yang kemudian menjadi bagian sangat penting dalam sejarah Depok. Pada masa yang jauh lebih kemudian muncul penjelasan yang menghubungkan keduanya melalui frasa: De Eerste Protestante Organisatie van Kristenen.

Lalu dari Mana Nama Depok Sebenarnya Berasal?

Menggugurkan teori akronim ternyata jauh lebih mudah daripada menjawab pertanyaan berikutnya: kalau bukan singkatan, apa sebenarnya arti Depok? Di sinilah kita perlu lebih berhati-hati.

Salah satu teori menghubungkan Depok dengan padepokan, yakni tempat menyepi, belajar, bertapa, atau merenung.

Sejarawan JJ Rizal
Sejarawan JJ Rizal. Sumber: Wikimedia.

Pandangan yang searah juga dikemukakan sejarawan JJ Rizal, yang menghubungkan Depok dengan pengertian tempat untuk merenung atau berpikir. Pendapat tersebut antara lain digunakan dalam penelitian sejarah mengenai Depok dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Boy Loen juga mengemukakan penjelasan serupa. Dalam wawancaranya dengan Kumparan, ia menghubungkan nama Depok dengan padepokan, yang merujuk pada tempat orang-orang dahulu bertapa atau bersemedi di sekitar tepian Sungai Ciliwung.

Teori ini menarik karena nama Depok juga tidak hanya ditemukan pada kota Depok sekarang. Toponim Depok atau bentuk yang berkaitan dengannya dapat dijumpai di berbagai wilayah lain di Jawa, misalnya Kecamatan Depok di Kabupaten Sleman.

Jika penggunaan Depok di tempat-tempat tersebut ternyata memiliki akar linguistik yang sama dan bahkan mendahului Chastelein, hal itu tentu akan semakin melemahkan kemungkinan bahwa nama Depok berasal dari sebuah organisasi Kristen akhir abad ke-17.

Namun, kita juga tidak perlu mengganti satu kepastian yang lemah dengan kepastian baru. Bahwa teori padepokan terdengar lebih masuk akal tidak otomatis membuktikan teori tersebut benar. Untuk sementara, asal-usul nama Depok dari kata padepokan tetap perlu diperlakukan sebagai hipotesis yang masih membutuhkan pembuktian historis lebih lanjut.

Diperbarui pada 8 Oktober 2026