Iseng Melipir ke Makam Kapitan Souw Beng Kong

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
27 September 2026
Papan Petunjuk Makam Souw Beng Kong
Papan Petunjuk Makam Souw Beng Kong

Hampir setiap akhir pekan, saya punya rutinitas bersepeda hingga kawasan bekas Oud Batavia. Titik ujungnya biasanya Museum Bahari, kawasan yang pada masa lalu menjadi bagian penting dari aktivitas pelabuhan Batavia, dengan menara syahbandar dan kompleks gudang VOC di sekitarnya.

Sesampainya di titik 0 Jakarta ini, saya biasanya berbalik kembali ke arah selatan. Rutenya tidak selalu sama. Kadang lewat Gunung Sahari, tetapi tak jarang saya memilih Jalan Pangeran Jayakarta, menyusuri jalur KRL red line Bogor–Jakarta Kota. Nah, ketika beberapa kali melintas di Jalan Pangeran Jayakarta inilah perhatian saya teralihkan oleh sebuah papan penunjuk di median jalan. Tulisannya cukup mencolok, Makam Kuno Kapt. Souw Beng Kong. Sekilas saya tergelitik membaca namanya. Dalam bahasa Jawa, bengkong berarti “bengkok”. Apakah kapitan ini tubuhnya bongkok? Entah lah, sepertinya tidak.

Istilah Kapitan Cina atau Kapitein der Chinezen sendiri sebenarnya tidak asing bagi saya. Beberapa kali saya mendengar istilah tersebut dan menemukannya dalam buku Almanak en Naamregister yang cukup sering menjadi sumber dalam tulisan saya.

Kembali ke makam Kapitan Souw Beng Kong, awalnya saya hanya melintas dan belum tertarik untuk mengunjunginya. Namun setelah dua atau tiga kali melewati papan penunjuk yang sama, rasa penasaran akhirnya tumbuh juga. Akhir pekan ini, saya pun memutuskan untuk melipir dari jalur bersepeda dan mencari makam tersebut.

Lokasi Makam Souw Beng Kong pada Peta Batavia 1918
Lokasi Makam Souw Beng Kong (Ikon Setengah Lingkaran) pada Peta Batavia 1918. Sumber: Universitas Leiden.

Untuk menuju ke makamnya ternyata memang agak tricky, karena saya harus masuk ke sebuah gang di tengah permukiman penduduk yang cukup padat. Di depan gang ada beberapa penjual sarapan yang pagi itu ramai pengunjung. Saya pun masuk dan beberapa kali berpapasan dengan warga sekitar. Tidak terlalu jauh masuk ke dalam, saya harus berbelok ke kanan menuju gang yang lebih sempit. Patokannya sebuah musala kecil, dan tepat di sebelah kanan musala inilah makam sang kapitan berada.

Posisi makamnya benar-benar tersembunyi di tengah permukiman, dikelilingi pagar besi dan dilengkapi papan informasi serta petunjuk bagi pengunjung yang hendak berziarah. Pada nisannya terdapat beberapa tulisan dalam bahasa Belanda dan huruf Cina, entah dalam dialek apa. Saya sendiri tidak cukup memahami tulisan tersebut untuk mengetahui lebih jauh isinya.

Makam Kapitan Souw Beng Kong
Makam Kapitan Souw Beng Kong

Sayangnya, ketika saya datang, kondisi di sekitar makam terlihat agak kurang terawat. Ada cukup banyak sampah berserakan di sekitarnya. Saya pun tidak berlama-lama di sana. Setelah melihat-lihat makam dan mengambil beberapa foto, saya kembali melanjutkan perjalanan dengan sepeda. Yang penting, rasa penasaran yang muncul setiap kali melihat papan penunjuk di Jalan Pangeran Jayakarta itu akhirnya terbayarkan.

Sekilas Tentang Souw Beng Kong

Dari pencarian singkat saya, Souw Beng Kong, yang dalam beberapa literatur kolonial juga ditulis sebagai Bencon atau So Bing Kong, lahir sekitar tahun 1580 dan meninggal pada 1644, sesuai dengan keterangan pada papan nama yang saya temui di median Jalan Pangeran Jayakarta. Menurut B. Hoetink, ia dilahirkan di daerah Fujian, Cina. Sebelum kemudian dikenal sebagai Kapitan Cina pertama di Batavia, Souw dipercaya oleh Sultan Banten, Pangeran Ratu, untuk menjadi pemimpin komunitas Cina di Kesultanan Banten. Namun ketika sang sultan berkonflik melawan VOC, Souw memilih berpihak kepada kompeni.

Ketika Jan Pieterszoon Coen memindahkan pusat pemerintahan VOC dari Banten ke Batavia, ia rupanya juga mendorong kedatangan orang-orang Cina atau sinkeh ke kota yang baru dibangunnya. Menurut Het voormalige Batavia, Coen memandang mereka sebagai kelompok yang sangat rajin, cinta damai, serta patuh kepada orang tua dan penguasa. Karakteristik tersebut tampaknya menjadi salah satu alasan Coen mendorong imigrasi orang-orang Cina ke Batavia.

Masih menurut sumber yang sama, jumlah komunitas sinkeh kemudian terus bertambah hingga mencapai sekitar 400 orang. Pertumbuhan ini membuat Coen memandang perlu adanya seorang kepala atau pengawas yang bertugas menjaga ketertiban dan disiplin di antara komunitas Tionghoa. Ketika diminta menentukan pemimpinnya, komunitas Cina di Batavia secara bulat mengajukan nama Souw Beng Kong. Pada 11 Oktober 1619, Coen secara resmi mengangkatnya sebagai Kapitan Cina pertama di Batavia. Dalam kedudukannya tersebut, Souw diberi kewenangan untuk menangani berbagai perkara perdata di lingkungan komunitasnya, sedangkan perkara-perkara yang lebih berat tetap berada di tangan VOC.

Aktivitas Souw sendiri tidak terbatas pada jabatannya sebagai kapitan. Ia disebut memiliki beragam kegiatan usaha, termasuk bisnis perjudian. Pada 1 November 1620 kepadanya juga dipercayakan wegers ambt, yakni suatu jabatan yang berkaitan dengan penimbangan barang. Ia kemungkinan juga memiliki bagian dalam berbagai hak pacht yang diberikan kepada orang-orang Tionghoa. Selain itu, Souw terlibat sebagai pemborong pekerjaan umum. Pada 1633 ia bahkan memperoleh hak atau oktroi untuk membuat uang token dari timah yang dalam sumber tersebut disebut sebagai “caxies ofte pitches.”

Jabatan Souw Beng Kong sebagai kapitan akhirnya berakhir pada 1636 dan posisinya kemudian digantikan oleh Lim Lacco. Pada masa itu, komunitas Cina di Batavia telah berkembang jauh dibandingkan ketika Souw pertama kali diangkat. Beberapa tahun sebelum berakhirnya masa jabatannya, pada 1632 jumlah orang Tionghoa di Batavia disebut telah mencapai sekitar 2.300 orang.

Diperbarui pada 3 Oktober 2026