Letusan Gunung Kelud Tahun 1864: Catatan Langsung dari Seorang Kolonial Belanda di Blitar

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
16 Mei 2025
Peta Kawah Gunung Kelud Karya Franz Wilhelm Junghuhn
Peta Kawah Gunung Kelud 1844. Sumber: Franz Wilhelm Junghuhn

Gunung Kelud merupakan gunung berapi yang boleh dibilang tergolong sangat aktif, letusannya telah memakan banyak korban jiwa dan harta benda. Pada artikel daring Mencatat Gaya Kelud di National Geographic Indonesia, merujuk pada buku Data Dasar Gunung Api Indonesia (ESDM, 2011), disebut bahwa pada periode tahun 1000 sampai 1864 telah terjadi 26 erupsi. Sayangnya, pada artikel tidak dijelaskan bagaimana proses dan sifat erupsinya. Sumber seperti artikel Gunung Kelud pada Wikipedia Indonesia pun hanya mencatat letusan mulai pada periode abad ke-20 saja dengan sedikit menyinggung erupsi pada 1586 yang merenggut 10.000 korban jiwa. Jadi sangat minim informasi terkait letusan pada periode-periode sebelumnya.

Baru-baru ini saya menemukan sumber primer yang mencatat secara detail tentang letusan yang terjadi pada abad ke-19. Sumber ini berasal dari surat kabar De Oostpost terbitan 08 Januari 1864. Menariknya, berita tentang letusan ini sepertinya bukan ditulis oleh wartawan, melainkan oleh korban langsung yang mengalami peristiwa tersebut. Berdasarkan rincian dan gaya bahasanya, kemungkinan besar ia adalah seorang tuan tanah (landheer) di perkebunan tembakau Belanda di sekitar Blitar. Ia menyampaikan laporannya secara tertulis, bisa jadi ditujukan kepada otoritas kolonial atau langsung dikirim ke redaksi De Oostpost, sebagai catatan langsung pascabencana.

Berikut adalah rekonstruksi naratif dari laporan tersebut, disusun ulang agar lebih mudah dipahami.

Laporan Korban Bencana Lahar Gunung Kelud 1864

Pada suatu malam di awal Januari 1864, sekitar pukul 01.00 dini hari, sebuah suara gemuruh besar membangunkan seorang pemilik perkebunan di Blitar. Suara itu begitu keras dan tak biasa, hingga ia tak bisa langsung mengenali apa penyebabnya. Beberapa saat kemudian, tampak jelas di langit kilatan api yang menjulang. Gunung Kelud, yang terletak di sebelah timur wilayah tempat ia tinggal, telah meletus.

Sekitar setengah jam setelahnya, hujan abu, pasir, dan batu-batu kecil mulai mengguyur dengan deras. Suara gemuruh pun tak berhenti, menyerupai deburan ombak yang tak kunjung reda. Tak lama, terdengar deru lahar, campuran air dan material vulkanik panas, yang mulai mendekati wilayah perkebunannya.

Di rumahnya saat itu menginap sepasang tamu, suami-istri Belanda beserta bayi mereka yang masih berusia enam bulan. Bersama para pelayannya, mereka semua naik ke atap rumah untuk menyelamatkan diri dari lahar yang semakin mendekat. Selama lebih dari tiga jam, mereka bertahan dalam ketakutan sambil menyaksikan aliran lumpur panas menyapu pekarangan dan bangunan di sekitar.

Menjelang pukul 04.00 pagi, suara mereda. Saat fajar menyingsing, kerusakan terlihat dengan jelas. Rumah yang sebelumnya dibangun setinggi empat kaki dari permukaan tanah kini sejajar dengan lapisan pasir dan lumpur vulkanik yang masih panas dan lembek. Pekarangan seluas 4½ bouw (kurang lebih 3,2 hektar) berubah menjadi padang pasir yang tak dapat dilalui.

Gudang-gudang penyimpanan yang beratap genteng ikut tertimbun beberapa kaki. Sebagian tembakau dan bal barang rusak, namun masih dapat diselamatkan sebagian. Di luar rumah, dinding penahan air jebol, jembatan-jembatan tersapu, dan pohon-pohon besar tercerabut dari akarnya dan terseret jauh.

Pagi itu, berita kematian mulai terdengar. Setidaknya enam jasad telah ditemukan, dan hewan ternak mati berserakan di mana-mana, bahkan terlihat bangkai babi hutan yang tampak seperti telah direbus. Aliran sungai-sungai kecil tertimbun pasir, dan jurang-jurang baru terbentuk akibat terjangan lahar.

Si penulis laporan memutuskan berangkat ke Srengat dengan menunggang kuda, karena akses jalan darat telah putus. Di sepanjang perjalanan ia menemukan jembatan-jembatan yang hilang dan bekas aliran air berubah menjadi jurang dan rawa penuh lumpur. Di Srengat, ketebalan pasir mencapai satu inci, sedangkan menurut laporan dari Kediri, tebalnya mencapai empat inci di pusat kota. Lanskapnya tampak seperti musim dingin bersalju: atap rumah berwarna putih, pohon-pohon tertutup debu, cabang dan ranting berguguran akibat berat abu vulkanik.

Kehancuran terbesar terjadi di Distrik Srengat. Tiga desa: Kemoening, Poeton, dan Ngemplak dilaporkan hilang sepenuhnya, termasuk empat dukuh kecil yang terkait. Sedikitnya 190 orang meninggal dunia di wilayah ini. Tiga gudang dan rumah para mandor juga hilang tak berbekas. Di tempat lain, juga ada laporan korban jiwa.

Sang penulis bahkan menghitung bahwa di lahannya sendiri, ketebalan pasir mencapai 2½ kaki. Jika dihitung berdasarkan kepadatan pasir sekitar 10 pon per kaki kubik, maka total pasir yang menutupi lahannya mencapai 7 juta pon.

Diperbarui pada 30 Agustus 2025