Ketika Srengat Bukan Bagian Blitar, Nasib Orang Kabupaten!

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
17 Februari 2024

Ketika pindah ke lingkungan baru kita harus beradaptasi dengan segala hal baru, mulai dari suasana, aturan tak tertulis, hingga berkenalan dengan orang-orang baru. Tapi bagi saya yang introvert, kegiatan ini sering bikin malas. Makanya, waktu jadi mahasiswa baru di 2006, saya cuma berkenalan dengan segelintir orang—itu pun sebagian besar lewat jalur mutual friend.

Namun, ada satu momen kenalan yang sampai sekarang masih saya ingat jelas. Ceritanya, suatu hari di kelas (entah Kimia Dasar atau mata kuliah lain, 18 tahun telah berlalu), seorang teman yang sudah saya kenal memanggil saya. Katanya, ada teman sekelas yang ternyata juga dari Blitar. Wah, senang dong, akhirnya ada teman sekampung!

Kami pun berkenalan, karena duduk kami agak berjauhan ia agak berteriak “Dari Blitar mana?” Saya dengan santai menjawab, “Srengat.” Tapi yang bikin saya terkejut dia malah menimpali dengan enteng, “Srengat bukan Blitar.”

Saya terdiam! Teman-teman sekelas yang mendengar pun langsung menertawakan. Jujur saya tersinggung. Lah? Hampir 2 dekade menghabiskan waktu di Srengat dengan KTP, ijazah, dan kartu keluarga yang semua mencantumkan nama “Blitar,” tapi tiba-tiba ke-Blitar-an saya dipertanyakan.

Buat yang belum tahu, Blitar itu memang punya dua sisi identitas: Kota Blitar dan Kabupaten Blitar. Srengat sendiri termasuk dalam Kabupaten Blitar. Jadi, kalau kamu bilang dari Blitar, tapi bukan dari “kotanya,” ada kemungkinan besar identitasmu bakal ditantang, seperti yang saya alami.

Setelah kejadian itu, teman-teman sekelas kini mengenal saya berasal dari Srengat, bukan dari Blitar. Awalnya agak kecewa, namun lambat laun saya mulai menerimanya.

Ada beberapa alasan kenapa saya akhirnya santai menghadapi situasi ini:

1. Dari Awal Saya Tidak Pernah Mengaku dari Kota Blitar

Ketika saya mengaku berasal dari Blitar, karena memang saya mengasumsikan lawan bicara tidak mengenal semua daerah di Indonesia. Bayangkan kalau saya bilang “Srengat” ke orang dari Sumatera. Mereka mungkin juga tidak tahu dengan kampung tempat saya berasal ini.

Saya menyebut “Blitar” karena lebih mudah dikenal orang daripada menjelaskan Srengat—kecamatan kecil yang mungkin sebagian orang Jawa Timur pun belum tentu tahu. 

Nama Blitar saja tidak semua orang tahu kok. Pernah saya berkenalan dengan orang Jakarta, mendengar kata Blitar yang ada di pikirannya adalah kota dimana terdapat makam Kartini.

2. Tidak Ada Manfaat Mengaku Asli Kota Blitar

Kota Blitar adalah kota kecil, tier 3 lah. Mengaku sebagai orang Kota Blitar sama aja statusnya, tetap orang kampung, tidak serta merta meng-upgrade status saya menjadi ‘orang kota’. Jadi tidak ada bedanya.

3. Yang Menyebut “Srengat Bukan Blitar” Ternyata Orang Kabupaten Juga

Nah, ini yang paling kocak. Orang yang dengan yakin menyebut Srengat “bukan Blitar” ternyata juga berasal dari Kabupaten Blitar, kalau tidak salah dari sebuah kecamatan di selatan kota. Jadi sebenarnya, dia dan saya itu sama-sama “bukan dari Kota Blitar,” tapi entah kenapa waktu itu dia merasa punya otoritas untuk menilai ke-Blitar-an saya.

Begitulah nasib orang kabupaten, sering kali dianggap tidak valid hanya karena bukan dari kota. Tapi, apapun itu, saya tetap bangga dengan asal-usul saya, tidak malu dicap orang kampung. Srengat adalah bagian penting dari hidup saya, penuh cerita dan kenangan yang membentuk siapa saya hari ini. Dan meskipun ada yang meragukan, saya tetap yakin dan bangga dengan Srengat—yang jelas bagian dari Blitar, mau diakui atau tidak!

Diperbarui pada 24 Januari 2025