Ketika Orang Sains “Tergelincir” ke Dunia Gaib!

Gayuh Tri Satria Utama
Gayuh Tri Satria Utama
16 Maret 2025
Sampul Buku "De Javaansche Geestenwereld"
Sampul Buku “De Javaansche Geestenwereld”

Sejak kecil saya tumbuh sebagai anak yang penasaran terhadap sains dan teknologi. Buku tentang alam dan kegiatan mengutak-atik barang elektronik hingga komputer menjadi keseharian saya. Ketertarikan ini terus berlanjut hingga dewasa, bahkan menjadi dasar pemilihan jurusan kuliah saya.

Namun, di tengah kuatnya ketertarikan terhadap sains, hidup saya juga penuh paparan hal-hal mistis. Kisah hantu lokal seperti pocong, genderuwo, lampor, hingga glundhung plecek sering kali terdengar dari keluarga, teman, dan orang-orang sekitar saya. Di layar televisi, saya akrab dengan tontonan seperti vampir Cina (Jiangshi) dan film-film Suzanna. Belum lagi majalah misteri seperti Panjebar Semangat dan Jaya Baya yang menjadi bacaan masa kecil.

Kombinasi latar belakang sains dan mistis ini menciptakan perpaduan aneh dalam diri saya: saya seorang yang logis, meyakini bahwa hantu itu tidak nyata, tapi kalau harus sendirian di tempat yang dianggap angker, nyali saya langsung ciut. Sungguh absurd, takut dengan sesuatu yang saya sendiri tidak percayai keberadaannya secara ilmiah.

Saat dewasa, tidak banyak berubah. Saya tetap yakin dengan logika sains, tapi sisi “penakut” terhadap hal-hal gaib tetap hadir dalam diri. Dunia mistis tak pernah menjadi minat serius saya, hanya sesekali saya menikmati film horor untuk hiburan semata.

Awal Ketertarikan dengan Dunia Gaib

Namun semua mulai berubah di masa pandemi COVID-19 sekitar tahun 2020-an. Kampanye “di rumah saja” membuat kebanyakan orang mencari cara mengatasi rasa jenuh. Saya awalnya sempat mencoba menanam sayur dengan hidroponik, meskipun sebagian besar akhirnya mati. Lalu, muncul ide spontan yakni membuat kanal YouTube.

Dalam bayangan saya, pasti banyak orang yang menghabiskan waktunya menonton YouTube saat itu. Saya memutuskan membuat konten bertema “hantu”, karena ya, orang Indonesia memang doyan cerita hantu. Tapi, saya tidak ingin membuat konten horor biasa yang penuh tahayul dan omong kosong. Inspirasi saya adalah channel luar negeri seperti Storied dari PBS yang mengulas aspek sosial dan budaya dari cerita hantu.

Saya mulai melakukan riset daring dan menemukan situs Historia yang kemudian jadi sumber favorit saya dalam menemukan sumber sejarah. Dari beberapa artikel di sana, saya mendapat rekomendasi buku klasik abad ke-19 karya H.A. van Hien berjudul “De Javaansche Geestenwereld” hingga buku “The Religion of Java” karya Clifford Geertz. Di luar itu, saya juga menemukan beberapa buku modern seperti “Bausastra Lelembut” dan “#Hantupedia: Ensiklopedia Hantu-Hantu Nusantara” yang membahas dunia perhantuan secara menarik dan santai.

Singkat cerita, saya berhasil membuat beberapa video. Sayangnya, popularitas tidak seperti harapan di awal. Kanal saya sepi penonton, mungkin karena kualitas video yang sederhana dan tidak adanya upaya marketing yang serius. Akhirnya saya kehilangan motivasi dan berhenti produksi video.

Apa Selanjutnya?

Walaupun berhenti dari YouTube, ketertarikan saya terhadap cerita mistis dari sudut pandang sosial budaya tetap ada. Saya masih rajin membaca buku dan artikel dari Historia. Saya pun sempat terpikir, kenapa tidak mengalihkan hobi ini dari video YouTube yang sepi ke artikel blog?

Bagi saya, sayang jika cerita hantu-hantu lokal seperti yang dicatat oleh H.A. van Hien hilang begitu saja tanpa dokumentasi modern. Jangan sampai generasi muda Indonesia hanya tahu hantu mainstream seperti pocong, genderuwo, dan kuntilanak saja. Karena itu, saya memutuskan untuk membuat label baru di blog ini bernama “Hantupedia“, tempat yang akan saya pakai untuk mendokumentasikan berbagai jenis dedemit Nusantara. Tentu, tujuan saya bukanlah memupuk kepercayaan tahayul atau klenik, melainkan mendokumentasikan bagian dari budaya dan sejarah Indonesia saja.

Diperbarui pada 13 Mei 2025
Label: