Inikah Asal-usul Nama Srengat?
Setiap nama daerah tentu memiliki asal-usulnya sendiri. Ada yang berasal dari nama tokoh, kondisi geografis, peristiwa tertentu, hingga kata dalam bahasa yang pernah digunakan masyarakat pada zamannya. Sebagian dapat ditelusuri melalui sumber sejarah, sementara sebagian lainnya hanya menyisakan cerita atau dugaan yang berkembang kemudian.
Asal-usul nama Srengat hingga kini masih menjadi misteri. Tidak adanya sumber yang secara jelas menerangkan dari mana nama tersebut berasal membuat sejarawan maupun pemerhati sejarah mengajukan berbagai perkiraan, bahkan terkadang imajinasi yang cukup liar. Salah satunya mengaitkan Srengat dengan nama “Srenggapura”, meskipun klaim ini tidak didasarkan pada sumber yang valid.

Pendapat lain menghubungkan nama Srengat dengan Bandara Raden Mas Sarengat, nama lahir Mangkunegara III. Gagasan ini sekilas lebih masuk akal dibandingkan Srenggapura karena terdapat kemiripan nama yang jelas. Namun, persoalannya terletak pada kronologi. Mangkunegara III baru lahir pada 1801, sedangkan nama Sarengat telah tercatat dalam sejumlah sumber dari abad sebelumnya.
Lantas, seberapa jauh sebenarnya nama Srengat dapat ditelusuri ke belakang?
Srengat yang Belum Bernama Srengat
Jika ditarik ke masa Hindu-Buddha, sejauh penelusuran yang dilakukan untuk tulisan ini belum ditemukan prasasti maupun sumber tertulis sezaman yang secara eksplisit menyebut nama Srengat. Meski demikian, wilayah yang secara historis merupakan bagian dari Srengat telah meninggalkan jejak tertulis setidaknya sejak masa Kadiri.
Salah satunya adalah Prasasti Padlegan I, bertarikh 1038 Śaka atau 1117 M, yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Bameswara. Prasasti tersebut berasal dari Pikatan, wilayah yang secara historis termasuk Kecamatan Srengat sebelum kemudian menjadi bagian Kecamatan Wonodadi setelah pemekaran wilayah pada tahun 1992. Prasasti ini antara lain mencatat toponim Padlĕgan tetapi tidak menyebut nama Srengat.
Jejak serupa ditemukan pada Prasasti Mleri I, bertarikh 1091 Śaka atau 1169 M, yang berasal dari kawasan Mleri di Kecamatan Srengat. Dalam prasasti tersebut dijumpai nama Weleri, yang diperkirakan berkaitan dengan toponim Mleri yang bertahan hingga sekarang.
Dengan demikian, sumber-sumber epigrafis menunjukkan bahwa wilayah yang kemudian dikenal sebagai Srengat telah memiliki permukiman dan toponim yang dapat dilacak setidaknya sejak abad ke-12. Namun, hal tersebut perlu dibedakan dari sejarah nama Srengat itu sendiri. Sejauh sumber Jawa Kuno yang berhasil ditelusuri, nama Srengat atau Sarengat belum ditemukan. Yang muncul justru nama-nama tempat seperti Padlĕgan dan Weleri.
Dengan kata lain, jejak sejarah wilayahnya jauh lebih tua daripada bukti tertulis yang sejauh ini diketahui mengenai penggunaan nama Srengat. Pertanyaannya kemudian bergeser: jika nama itu belum terlihat dalam sumber-sumber masa Hindu-Buddha, kapan Sarengat mulai muncul?
Mungkinkah Berasal dari Masa Islam?
Di sinilah bentuk lama nama Srengat menjadi menarik. Dalam sejumlah sumber kemudian, nama daerah ini tidak ditulis Srengat, melainkan Sarengat. Bentuk tersebut memiliki kemiripan dengan kata sarengat dalam bahasa Jawa, yang berarti syariat, dari bahasa Arab sharīʿah. Kemiripan ini memunculkan kemungkinan bahwa nama Sarengat terbentuk ketika pengaruh Islam telah berkembang di Jawa.
Secara kronologis, kemungkinan tersebut cukup menarik. Nama Srengat belum ditemukan dalam prasasti masa Hindu-Buddha yang sejauh ini diketahui, sementara bentuk Sarengat kemudian muncul dalam sumber yang berkaitan dengan lingkungan politik Mataram Islam. Jika keduanya memang berhubungan, nama Srengat mungkin berasal dari suatu periode di antara berakhirnya masa Hindu-Buddha dan berkembangnya kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam di pedalaman Jawa.
Namun, dugaan tersebut masih sebatas hipotesis etimologis. Kemiripan bunyi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa nama Sarengat berasal dari kata sarengat dalam pengertian syariat. Sampai ditemukan naskah yang lebih tua atau keterangan mengenai pemberian nama tersebut, asal-usulnya belum dapat dipastikan.
Untuk sementara, cara yang lebih aman adalah mencari sejak kapan Sarengat mulai muncul sebagai nama tempat dalam sumber tertulis. Jejak yang ditemukan membawa kita ke lingkungan Mataram pada awal abad ke-18.
Sarengat dan Pangeran Blitar pada 1711
Petunjuk tertua yang saya temukan ada dalam karya M.C. Ricklefs, War, Culture and Economy in Java, 1677–1726. Menurut Ricklefs, pada 1711 Pakubuwana I menyerahkan kendali atas wilayah yang ditulis Sarĕngat dan Blitar kepada putranya, Pangeran Blitar. VOC sempat mencoba mencegahnya, tetapi gagal, dan wilayah itu dipegang Pangeran Blitar hingga 1716.

Artinya, nama Sarengat sudah tercatat dalam laporan VOC sejak 1711. Wilayah ini juga sudah dianggap cukup penting untuk diberikan kepada seorang pangeran. Perlu dicatat, karya Ricklefs adalah historiografi modern, bukan dokumen sezaman, tetapi disusun dari arsip VOC.
Petunjuk dari Tahun 1726

Petunjuk berikutnya datang dari Willem G.J. Remmelink dalam The Chinese War and the Collapse of the Javanese State, 1725–1743. Dalam lampiran Daftar Pejabat-Pejabat Tinggi, wilayah ini dituliskan sebagai “Blitar/Sarengat.” Salah satu entrinya bertarikh 1726:
“Digantikan pada bulan November 1726 oleh mantan bupati Demang Ranuita, saudara tiri Patih Danureja.”
Adanya jabatan Bupati Srengat yang terus dicatat dan diganti menunjukkan bahwa Sarengat, bersama Blitar, masih dikenal sebagai wilayah penting dalam lingkungan politik Mataram. Hal ini memperkuat gambaran dari Ricklefs sebelumnya.
Seperti Ricklefs, Remmelink adalah karya historiografi modern, bukan dokumen yang ditulis pada 1726. Meski begitu, keduanya bersandar pada pencatatan VOC yang sezaman, dan sama-sama menyebut Sarengat bersama Blitar.
Untungnya, kita tidak perlu bergerak terlalu jauh dari 1726 untuk menemukan bukti yang lebih jelas.
Sarengat dalam Catatan Van Imhoff Tahun 1746
Sebelas tahun kemudian, nama Sarengat muncul secara eksplisit dalam Reis van den Gouverneur-Generaal Van Imhoff, over Java, in het jaar 1746 atau catatan perjalanan Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem van Imhoff di Jawa pada 1746. Dalam catatan bertanggal 14 April 1746, terdapat keterangan:
“…de regentschappen van Cadiri, Balora, Djapan, Rawa, Sarengat, Wirasaba, Tjaroeban, Kalangbret, Kartasana en Patje…”
Kurang lebih berarti: “kabupaten-kabupaten Kediri, Blora, Japan, Rawa, Sarengat, Wirasaba, Caruban, Kalangbret, Kertasana, dan Pace.”

Satu kata dalam kutipan tersebut menjadi penting: regentschappen. Sarengat tidak sekadar dicatat sebagai nama tempat, melainkan kembali ditempatkan bersama sejumlah wilayah lain sebagai suatu regentschap atau kabupaten. Dengan demikian, pada 1746, sembilan tahun sebelum Perjanjian Giyanti, Sarengat masih dikenal sebagai suatu kesatuan pemerintahan dalam pencatatan VOC.
Sarengat dan Pembagian Mataram
Beberapa tahun setelah kunjungan Van Imhoff, konflik berkepanjangan di Mataram berujung pada pembagian kerajaan. Perundingan antara Nicolaas Hartingh dan Pangeran Mangkubumi pada September 1754 menghasilkan dasar pembagian wilayah Mataram. Kesepakatan tersebut kemudian dituangkan secara resmi melalui Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, yang membagi kekuasaan antara Pakubuwana III di Surakarta dan Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwana I di Yogyakarta.
Srengat dalam The History of Java
Gambaran mengenai pembagian tersebut kemudian dicatat oleh Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java. Raffles mencatat Srengat sebagai salah satu wilayah yang jatuh ke bagian Surakarta dalam pembagian Mataram yang dirundingkan sejak 1754.

Namun, The History of Java baru diterbitkan pada 1817, lebih dari enam dasawarsa setelah Perjanjian Giyanti. Karena itu, keterangan Raffles tidak dapat diperlakukan sebagai dokumen primer dari pembagian wilayah tahun 1754–1755. Meski demikian, catatannya menunjukkan bahwa pada awal abad ke-19, Srengat masih dikenali sebagai salah satu wilayah yang secara historis masuk dalam bagian Kasunanan Surakarta setelah pembagian Mataram.
Ada sumber lain yang memberikan keterangan lebih langsung mengenai rincian pembagian tersebut.
Srengat dalam Het Boek van Cleppoe
Sumber tersebut dikenal sebagai Het Boek van Cleppo atau Buku Klepu, sebuah sumber yang berkaitan dengan pencatatan pembagian wilayah dan cacah antara Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
Dalam Het Boek van Cleppo, Srengat disebut secara eksplisit sebagai bagian dari wilayah Kasunanan Surakarta. Sumber-sumber mengenai pembagian wilayah Vorstenlanden juga menempatkan Sarengat bersama daerah Mancanegara Kasunanan lainnya, seperti Panaraga, Kediri, Wirasaba, Blitar, Keduwung, Blora, Pace, Jagaraga, dan Banyumas. Dalam pencatatan tersebut, Sarengat dan Blitar diperhitungkan bersama sebanyak 2.000 cacah.
Keterangan tersebut memperkuat gambaran bahwa setelah pembagian Mataram, Sarengat merupakan bagian dari jaringan wilayah Mancanegara Kasunanan Surakarta. Letaknya memang jauh dari pusat kerajaan di Surakarta, tetapi kondisi semacam ini bukan sesuatu yang aneh setelah Giyanti karena wilayah kedua kerajaan tersebar dan saling berselingan di berbagai daerah Jawa.
Jadi, Inikah Asal-usul Nama Srengat?
Untuk sementara, jawabannya masih: mungkin, tetapi belum dapat dipastikan.
Kita dapat melihat dua lapisan sejarah yang berbeda. Wilayahnya dapat ditelusuri setidaknya hingga masa Kadiri pada abad ke-12 melalui Prasasti Padlegan I dan Mleri I. Namun, nama Srengat belum ditemukan dalam sumber-sumber Jawa Kuno yang sejauh ini diketahui.
Nama Sarengat baru terlihat dalam sumber yang berkaitan dengan lingkungan Mataram Islam pada abad ke-18. Jejak paling awal yang saya temukan ada pada 1711, ketika menurut Ricklefs, Pakubuwana I menyerahkan kendali atas Sarĕngat dan Blitar kepada Pangeran Blitar. Remmelink memperkuatnya dengan menyebut “Blitar/Sarengat” dalam peristiwa November 1726. Catatan Van Imhoff pada 1746 memberi bukti yang lebih eksplisit bahwa Sarengat dikenal sebagai suatu regentschap. Setelah Perjanjian Giyanti pada 1755, kedudukannya sebagai bagian dari wilayah Kasunanan Surakarta semakin jelas dalam sumber-sumber mengenai pembagian Mataram.
Di sinilah dugaan hubungan antara nama Sarengat dan kata Jawa sarengat yang berarti syariat menjadi menarik. Secara kronologis, kemungkinan tersebut tidak mustahil. Nama itu belum terlihat dalam sumber Hindu-Buddha yang sejauh ini diketahui, tetapi sudah digunakan pada masa Mataram Islam.
Namun, belum ada mata rantai yang dapat membuktikan hubungan tersebut. Kita belum mengetahui kapan tepatnya nama Sarengat mulai digunakan, siapa yang pertama menggunakannya, maupun apakah nama itu memang berasal dari istilah keagamaan tersebut. Karena itu, hubungan Sarengat dengan syariat tetap harus ditempatkan sebagai sebuah hipotesis, bukan kesimpulan.