Dongeng Bapak yang Ternyata Bukan Dongeng Biasa

My relation with my Dad was far from great, tapi bukan berarti tidak ada hal-hal indah yang nyantol di core memory saya. Salah satu hal yang paling berkesan dan masih saya ingat sampai sekarang adalah sebuah dongeng yang pernah Bapak ceritakan waktu saya kecil. Saya tidak ingat pasti kapan, mungkin awal dekade 90-an. Waktu itu, malam sebelum tidur, Bapak cerita tentang fabel antara seekor sapi dan buaya.
Kurang lebih ceritanya begini:
Suatu hari, seekor sapi berjalan di tepi sungai di dalam hutan. Tiba-tiba dia mendengar suara minta tolong. Setelah didekati, ternyata ada seekor buaya yang tertimpa batu besar. Si sapi menolong dengan memindahkan batu tersebut. Karena tidak bisa berjalan, buaya itu lalu meminta untuk digendong pulang. Sapi pun menggendongnya. Di tengah perjalanan, buaya yang kelaparan karena terlalu lama tertimpa batu tiba-tiba berkata, “Boleh nggak aku gigit punukmu? Lapar banget nih.” Sapi yang dengar itu kecewa berat. Sudah menolong, malah mau dimakan. Karena marah dan kecewa, sapi memutar balik arah, kembali ke tempat semula, dan menjatuhkan batu ke tubuh buaya, seperti awal ia menemukannya.
Walaupun Bapak cuma cerita kisah ini sekali, buat saya kisah ini sangat berkesan. Mungkin karena dongeng ini jauh dari cerita mainstream tentang si Kancil mencuri timun yang udah terlalu sering diceritakan di mana-mana.
Bertahun-tahun berlalu, dan sekarang saya sendiri sudah menjadi bapak. Saya teringat lagi dongeng ini, dan terpikir buat menceritakannya kembali ke anak saya. Bahkan sempat muncul ide untuk bikin buku dongeng bergambar atau animasi dari cerita ini. Langkah pertama saya saat itu: riset. Saya coba cari kisah sapi dan buaya di internet, tapi nihil. Tidak ada yang sama persis. Saya sempat berpikir, apakah ini dongeng buatan Bapak sendiri? Bisa jadi. Tapi karena gak nemu sumber yang cocok dan sibuk dengan hal lain, rencana ini akhirnya saya tinggalkan.
Hingga akhirnya, beberapa hari lalu, saya nonton salah satu video dari Asisi Channel di YouTube. Di situ dibahas tentang Tantri Kamandaka dari Candi Jago di Malang. Ada beberapa fabel yang terdapat pada relief candi, dan salah satunya mirip banget dengan dongeng Bapak. Ada sedikit perbedaan di detail, tokoh utamanya adalah banteng yang menolong buaya yang tertimpa pohon. Ketika buaya hendak memakan banteng, hadirlah rusa sebagai penengah yang mencegah banteng dimangsa buaya. Buaya tersebut akhirnya berakhir mati di tangan para pemburu.
Setelah nonton video itu, saya mulai berpikir, jangan-jangan dongeng Bapak memang terinspirasi dari relief Candi Jago? Mungkin kisah ini bukan buatan Bapak, tapi memang cerita lama yang udah diwariskan turun-temurun.
Beberapa hari setelah nonton video itu, saya buka Instagram dan lihat postingan Mas Arie, kakak pertama saya. Dia unggah beberapa foto zaman kolonial tentang Candi Penataran. Di salah satu slide ada ukiran yang bikin saya langsung teringat, seekor hewan dengan buaya di atas punggungnya. Hey yo, sepertinya universe sedang berkolaborasi untuk mengingatkan saya tentang dongeng Bapak!
Saya langsung buka Safari, ketik “sapi buaya penataran”, dan ketemu beberapa artikel. Beberapa cerita menyebutkan versi dengan tokoh ketiga seekor kancil, mirip di penuturan Asisi Channel namun bukan rusa. Tapi ada juga yang menyebut cerita versi dua tokoh saja: sapi dan buaya. Dan itu mirip seperti yang Bapak pernah ceritakan.
Kesimpulannya? Saya dulu nggak pernah nanya ke Bapak soal asal-usul cerita ini. Sekarang beliau sudah tiada, jadi gak mungkin saya mendapat jawaban pasti. Bisa saja, dongeng favorit saya ini memang berasal dari kisah kuno yang terukir di dinding Candi Jago, dinding patirtan Candi Penataran, dan di sisi belakang salah satu dwarapala Candi Penataran.
Dan soal perbedaan detail antara versi Bapak, versi internet, dan versi Asisi Channel? Wajar saja. Setiap orang atau sejarawan bisa memiliki intepretasinya sendiri terkait relief. Selain itu, dongeng yang sudah ratusan tahun diceritakan dari mulut ke mulut pasti akan mengalami perubahan atau modifikasi. Tapi esensinya tetap sama: soal kebaikan, pengkhianatan, dan pembalasan. Dan buat saya, dongeng ini akan selalu istimewa. Terimakasih Pak Muljoto.